Sabtu, 14 Juni 2014

Arswendo: Jokowi adalah Jawaban Doa Kita

ini judul beritanya ya

Arswendo: Jokowi adalah Jawaban Doa Kita


Jakarta: Penulis sekaligus wartawan Arswendo Atmowiloto turut memberikan dukungannya kepada calon presiden dan wakil presiden nomor urut 2, Joko widodo dan Jusuf Kalla.

Arswendo pun menjelaskan alasan di balik keputusannya mendukung pasangan yang didukung empat partai politik tersebut. "Saya merasa terwakili dengan beliau dan kenal dari awal. Dia jawaban dari doa kita untuk pemimpin ideal selama ini," ujar Arswendo dalam acara dukungan Komunitas Alumni Universitas Negeri Sebelas Maret, Surakarta (UNS) terhadap Jokowi-JK di rumah Ir Soedibjo JL Mangun Sarkoro no 69, Menteng, Jakarta Pusat (14/6/2014).

Lebih lanjut, pria yang kini berusia 65 tahun itu mengatakan bahwa dirinya begitu terwakili oleh sosok seorang Joko Widodo yang begitu sederhana dan ramah terhadap masyarakat. "Enggak ada alasan lain. Saya terwakili beliau. Dia lebih sederhana. Saya ingin pemimpin yang sederhana dan merakyat. Itu terwakili oleh sosok Jokowi," paparnya.


  (PRI)

Source : http://touch.metrotvnews.com/read/2014/06/14/252677#.U5xR9BrWKDg


Senin, 09 Juni 2014

EKM: Emang Kamu Misa?

2
belajar taat

EKM: Emang Kamu Misa?

Biasanya, setiap mendengar kata EKM kita langsung berpikir soal Ekaristi Kaum Muda. Hmmm… Emangnya ada Ekaristi Kaum Tua atau Ekaristi Anak-anak?
EKM biasanya menjadi perayaan Ekaristi yang digemari oleh anak muda (mungkin juga ada orang tua yang suka). Umumnya dalam perayaan Ekaristi Kaum Muda tata perayaannya dibuat berbeda. Katanya menurut selera orang muda:  tarian, musikalisasi puisi, visualisasi cerita kitab suci atau drama hidup sehari-hari, dengan iringan kor maupun band, dengan bintang tamu dan simbol-simbol orang muda. Hal ini ditempuh untuk membantu orang muda berjumpa dengan Yesus dalam perayaan Ekaristi.
Sejauh saya mengerti dan paham hanya ada satu Ekaristi, yaitu Ekaristi yang kita rayakan setiap hari minggu atau hari biasa yang sesuai dengan petunjuk TPE. Yang membedakan adalah intensi atau ujudnya saja. Ekaristi yang satu itu sifatnya perayaan resmi Gereja. Karena sifatnya yang resmi itulah Gereja membuat aturan-aturan untuk memastikan bahwa Ekaristi itu sah dan valid.
Emangnya dengan tata perayaan yang katanya dibuat sesuai selera kaum muda itu, Anda (kaum muda) merayakan misa? Gereja yang kudus mengajarkan dengan teramat jelas mengenai hakekat perjumpaan atau kehadiran Yesus dalam liturgi. Ajaran Gereja ini dengan mudah akan kita jumpai jika kita berani dan mau membuka dokumen Konsili Vatikan II, khususnya SC. Konstitusi tentang Liturgi Suci,Sacrosanctum Concilium, menjelaskan bahwa Kristus selalu hadir dalam diri umat beriman yang sedang berliturgi. Sebab, dalam setiap kegiatan liturgi, kita berkumpul dalam nama Kristus untuk merayakan karya keselamatan Allah. “Dalam karya seagung itu, saat Allah dimuliakan secara sempurna dan manusia dikuduskan, Kristus selalu menggabungkan Gereja, Mempelai-Nya yang terkasih, dengan diri-Nya” (SC 7).
Oleh karena itu, marilah dalam setiap kegiatan liturgi, kita selalu menyadari bahwa Tuhan hadir dalam komunitas atau kebersamaan kita. Dengan kesadaran ini, tentu setiap perayaan liturgi akan kita persiapkan dan kita hayati dengan sungguh-sungguh. Akhirnya, liturgi yang kita hayati dengan sungguh-sungguh ini akan mengalirkan rahmat yang melimpah sehingga kita sehati sejawa dalam kasih dan dapat mengamalkan iman kita dalam kehidupan sehari-hari (SC 10).
Konstitusi Liturgi juga menyatakan: “Kristus hadir dalam kurban Misa, baik dalam pribadi pelayan ‘karena yang sekarang mempersembahkan diri melalui pelayanan imam sama saja dengan Dia yang ketika itu mengorbankan diri di kayu salib’, maupun terutama dalam (kedua) rupa Ekaristi” (SC 7). Betapa agung dan mulianya Kristus yang berkenan hadir di tengah kita umat-Nya melalui diri para pastor atau pelayan Misa ini. Itulah sebabnya, saat memimpin Misa seorang imam benar-benar sedang menjadi alter Christus (Kristus yang lain). Karena Kristus hadiri dalam diri imam saat memimpin Misa itulah, umat berdiri saat imam masuk, atau para petugas menundukkan kepala kepada imam selebran sebelum bertugas.
Kiranya dapat dikatakan bahwa dalam perayaan Ekaristi Kristus sendiri hadir dan menjumpai kita. Luar biasa kan? Nah, perayaan Ekaristi sendiri ya mulai dari awal sampai akhir. Mulai dari ritus pembuka sampai ritus penutup. Jika sudah demikian luar biasa ajaran Gereja, masihkah kita menggunakan argumen “untuk membantu umat berjumpa dengan Tuhan” sebagai pembenaran atas utak atik tata perayaan Ekaristi? Jangan-jangan, “kita melihat namun tidak percaya”. Artinya Kristus jelas hadir tetapi tidak mampu kita lihat. Kristus ada namun kita malah sibuk mencari cara untuk menghadirkan Yesus. Wong sudah hadir kok masih dicari-cari dengan cara ini dan itu.
Gereja mengajarkan bahwa “Kristus hadir dalam Sabda-Nya, sebab Ia sendiri bersabda bila Kitab Suci dibacakan dalam Gereja” (SC 7). Ajaran ini kembali ditegaskan dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK) no. 1088. Mengingat agung dan luhurnya kehadiran Tuhan dalam Sabda-Nya, Instruksi Redemptionis Sacramentummenegaskan, “Tidak juga diperkenankan meniadakan ataupun menggantikan bacaan-bacaan Kitab Suci yang sudah ditetapkan, atas inisiatif sendiri, apalagi “mengganti bacaan dan Mazmur Tanggapan yang berisi sabda Allah, dengan teks-teks lain yang bukan dari Kitab Suci” (RS 62). Jelas kan bahwa Yesus hadir dalam sabda-Nya? Lha kok masih berani-beraninya kita mencari-cari kehadiran Yesus dalam sabdaNya itu dengan membuat injil tandingan yang terwujud dalam visualisasi. Teks Injil yang demikian agung justru kita gantikan dengan visualisasi atau drama. Bacalah dan pahamilah, wahai rekan-rekan muda.
Masih ada contoh lain. Konstitusi Liturgi artikel 7: “Kristus hadir, sementara Gereja memohon dan bermazmur, karena Ia sendiri berjanji: Bila dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situlah Aku berada di antara mereka (Mat 18:20)”. Konstitusi Liturgi menunjuk  bahwa Tuhan hadir saat Gereja memohon dan bermazmur. Jelas kan jika Yesus hadir ketika umatNya sedang berdoa? Tapi coba kita lihat apa yang terjadi pada saat EKM? Ada lho yang selama perayaan Ekaristi malah sibuk dengan SMS atau BBM. Ada yang tidak peduli dengan apa yang terjadi, yang penting bisa menerima komuni.
Ketika omong soal perjumpaan, kita itu ngomong soal sesuatu yang ada dalam diri kita. Kita berbicara soal disposisi batin. Cobalah rekan-rekan muda bertanya bagaimana simbah-simbah kita dahulu menyiapkan diri untuk merayakan Ekaristi. Ada lho yang rela berjalan jauh selama berjam-jam dengan kondisi perut lapar karena berpuasa. Itu semua untuk apa? “Supaya pantas menerima Kristus” adalah jawaban yang sering terdengar. Bagi saya ini jelas: disposisi batin memudahkan kita untuk mengalami perjumpaan dengan Tuhan.
Tanpa disposisi batin yang tepat, Ekaristi hanyalah sebuah tontonan. Kita tinggal duduk menikmati drama visualisasi Injil; mendengarkan salah satu penyanyi yang disorot kamera dan ditampilkan di layar sembari bergumam: “suarane apik yo”, “penyanyine ayu tenan”; atau ritus-ritus lain yang diciptakan untuk “membantu umat bertemu dengan Tuhan”. Atau terserah mau ngapain yang di dalam gereja, yang penting saya bisa terima komuni.
Disposisi batin yang tepat akan membawa kita sampai kepada keterlibatan yang sadar dan aktif. Ada yang bilang, “Kalau gak ada keterlibatan, ya sebetulnya gak ada perayaan syukur bersama, dan kalau gak ada perayaan syukur bersama, berarti imamnya doang yang “bikin misa”. Sejauh mana kita mengartikan keterlibatan? Memberikan kesaksian tentang kegelisahan hidup pada saat ritus tobat? Ikut menjadi pemain dalam visualisasi Injil? Berjabat tangan dengan orang-orang yang ada di gereja?
Kita akan bisa terlibat secara sadar dan aktif dalam berliturgi ketika kita sungguh mengerti dan paham apa yang dimaksudkan oleh Gereja. Seluruh ritus yang ada disusun sedemikian rupa sehingga membantu umat untuk semakin menyadari bahwa Perayaan Ekaristi adalah perayaan iman yang didalamnya kita merayakan karya keselamatan Allah yang terlaksana melalui Yesus dalam Roh Kudus. Dengan mengerti dan memahami makna dari ritus-ritus  yang ada, saya yakin kita akan mampu menghayatinya dengan sikap batin yang luar biasa. Ketika kita mampu melakukan dan menghati ritus-ritus itu, itulah keterlibatan yang sadar dan aktif. Masing-masing menempatkan diri seturut peran dan fungsinya.
Akhirnya, jika kita sungguh-sungguh menghayati liturgi dan Ekaristi dengan segala kekayaan maknanya seperti dikehendaki Gereja, kita tentu dikobarkan untuk mengamalkan pengalaman doa atau Ekaristinya itu dalam hidup dan tingkah laku sehari-hari. Pergilah kita diutus! Dan dengan semangat 45 kita menjawab amin.
Namun, kita sering membenturkan Ekaristi dan perutusan. Kita menganggap Ekaristi tidak menggerakkan orang muda untuk terlibat dalam kehidupan. Lalu, yang diutak-atik adalah liturgi. Sungguh, saya tersenyum kecut ketika menjumpai pandangan seperti itu. Gereja jelas mengajarkan: “Liturgi mendorong umat beriman supaya sesudah dipuaskan ‘dengan sakramen-sakramen Paskah menjadi sehati sejiwa dalam kasih’. Liturgi berdoa, supaya ‘mereka mengamalkan dalam hidup sehari-hari apa yang mereka peroleh dalam iman’.” Jika kita belum tergerak untuk mengamalkan, maka persoalan ada pada hidup kita sendiri, bukan pada liturginya. Jika kita mengeluarkan kritikan: terlalu memperhatikan liturgi dan lupa pada praksis hidup, mengapa kita justru menghabiskan banyak waktu untuk mengutak-atik liturgi?
Saya yakin, ketika kita mampu menghayati liturgi dengan baik, rahmat itu akan menjadi daya dorong dan daya ubah untuk hidup kita. Jika belum, mari kita bertanya pada diri kita sendiri: Emang Kamu Misa? Atau jangan-jangan, sepertinya kita misa namun sejatinya Eh, Kita Menonton. Lha kalau nonton ya jangan berpikir soal daya ubah dan keterlibatan dalam kehidupan. Menonton itu puasnya ya ketika nonton. Bisa ampe nangis atau dengan semangat memberikan tepuk tangan. Sesudahnya?
Source : liturgikas.com

Berliturgi: Upacara atau Perayaan?

1a
diam pun bisa menjadi sebuah bukti nyata keterlibatan yang sadar dan aktif, terutama ketika hati sungguh dilibatkan di sana.

“Upacara-upacara liturgi bukanlah tindakah perorangan, melainkan perayaan Gereja sebagai sakramen kesatuan, yakni Umat kudus yang berhimpun dan diatur di bawah para Uskup” SC 26

Berliturgi: Upacara atau Perayaan?

Takdisangka bahwa dua artikel sebelum artikel ini tayang, INI dan INI, mendapat perhatian cukup besar. Ada pro dan kontra atas sebuah pembelajaran kiranya menjadi hal yang wajar. Semua itu menandaskan bahwa pendidikan berliturgi adalah sebuah upaya yang harus terus menerus dilakukan. Upaya ini tidak hanya ditujukan kepada umat, namun terutama kepada “para gembala sehingga semakin diresapi semangat dan daya Liturgi, serta menjadi mahir untuk memberi pendidikan Liturgi” (SC 14).
Dalam beberapa kesempatan, muncul sebuah gagasan mengenai liturgi sebagai upacara dan liturgi sebagai perayaan. Ada pandangan bahwa liturgi yang dirayakan dengan mengacu pada tata perayaan baku dianggap kuno, tidak up to date, dan bahkan dianggap sebagai sebuah upacara yang kaku. Sementara liturgi yang dirayakan menurut konteks zaman dan sesuai semangat kaum muda masa kini dipandang sebagai sebuah perayaan.
Bagaimana sih melihat liturgi itu? Apakah pandangan-pandangan seperti itu benar? Saya merasa, benar atau tidaknya pandangan itu sangat tergantung pada titik mana kita menempatkannya. Gereja sendiri, ketika kita membuka dokumen, SC misalnya, akan menemukan dua kata itu dipakai ketika berbicara tentang liturgi suci. Maka, tidak perlu kan menunjuk ini atau itu. yang perlu justru mendalami apa maksud Gereja mengenai kata upacara dan perayaan.
Nah, yukk kita sedikit demi sedikit mencoba mendalaminya.
Sebelum kita masuk ke bagian itu, saya mengajak untuk melihat konteks yang sedikit jauh. Saya mengajak untuk memulai dengan kata ungkapan dan perwujudan iman. Setiap orang beriman dituntut mengungkapkan dan mewujudkan imannya dalam kehidupan sehari-hari.
Pengungkapan iman menunjukkan identitas lahiriah seseorang dan menyatakan secara nyata relasinya dengan yang ilahi. Liturgi merupakan ungkapan resmi iman seseorang. Resmi menekankan aspek kewajiban dan aspek formalitas (bentuk, pelayan dan doa-doanya). Catatan penting perlulah dibuat pada bagian ini. Liturgi adalah ungkapan resmi kita. Dalam hidup sehari-hari, sesuatu yang sifatnya resmi pastilah memiliki aturan-aturan. Pun pula dalam liturgi sebagai ungkapan resmi.
Mungkin kita masih mendebat, ngapain sih ada aturan-aturan dalam liturgi? Mengapa tidak diberi kebebasan saja? Bukankah aturan-aturan itu membuat liturgi menjadi kaku, tidak membebaskan? Sekali lagi, liturgi adalah ungkapan resmi. Aturan dibuat oleh Gereja karena itu adalah hak umat supaya “terhindarkan kesan bahwa liturgi itu menjadi milik pribadi, entah selebran atau komunitas di mana misteri-misteri itu dirayakan” (RS18). Artinya pengaturan liturgi adalah hak umat dan untuk menjamin liturgi terlaksana secara penuh dan tepat guna.
Ketika kita ngomong soal kebebasan dalam berliturgi, kita perlu mengerti apa yang dimaksud kebebasan oleh Gereja. Kebebasan dalam benak kita mungkin, kita bisa membuat ini dan itu menurut pola pikir kita. Yang lain tidak perlu ribut. Kalau dalam konteks berliturgi, yang penting bagian poko (liturgi ekaristi) tidak diutak atik. Yang lainnya bisa dibuat begini atau begitu. Gereja justru menunjukkan lho. Hati-hati dengan pengertian kebebasan. Jika tidak hati-hati justru bisa jatuh dalam penyelewengan. “Dalam Kristus, Allah tidak menjamin bagi kita suatu kebebasan semu yang memberi kita peluang untuk berbuat apa saja yang kita kehendaki, melainkan suatu kebebasan yang dengannya kita boleh berbuat apa yang tepat dan benar” (RS 7). Nah, keliatan kan? Gereja mengajak kita sampai pada sebuah pemikiran, mengikuti aturan tidak sama dengan kita terbelenggu apalagi terkungkung di dalam tempurung rumah kita. Apakah dengan mengikuti aturan lalu iman kita bertumbuh dalam ketakutan akan aturan-aturan? Kiranya tidak. Karena kita diajak tidak hanya berhenti pada titik aturan itu tetapi kita masuki dan pahami apa yang dimaksudkan oleh Gereja yang Kudus. Kebebasan mengandaikan sebuah perbuatan yang tepat dan benar. Dengannya, hati tidak disingkirkan. Dengannya hati justru mendapatkan tempatnya karena kita tidak hanya melakukan aturan begitu saja. Dengan pemahaman yang benar, hati justru mendapatkan tempat istimewa.
Gereja pun sadar bahwa ketaatan lahiriah semata justru bertentangan dengan semangat liturgi suci. Untuk itu, tata lahiriah harus dibarengi dan diterangi dengan iman dan kasih, melaluinya kita dipersatukan dengan Kristus dan satu sama lain.
Selain ada ungkapan iman, ada pula perwujudan iman. Perwujudan iman menunjukkan kwalitas iman yang dinyatakan dalam menjalani hidup baik secara personal maupun relasional. Personal menunjuk pada aspek tanggung jawab dan relasional menunjuk pada aspek tingkat kwalitas relasi dengan sesama. Iman mempengaruhi dan mendasari perbuatan.
Pengungkapan dan perwujudan sama pentingnya dan tidak boleh menekankan salah satu aspek saja. Pengungkapan mendapat dasarnya dalam perwujudan. Perwujudan mendapat inspirasinya dari pengungkapan.
Berliturgi bukan soal wajib dan tidak, boleh dan tidak, melainkan soal konsekuensi dari jati dirinya sebagai orang beriman. Liturgi menyatakan jati diri sebagai orang beriman. Maka tidak mungkin beriman tanpa berliturgi.Liturgi bagaikan charger untuk iman. Karena liturgi, iman terus diteguhkan, dikuatkan, dibaharui dan akhirnya terus hidup dan mempengaruhi seluruh kehidupan.
Lalu, berliturgi itu sendiri apa sih? Berdasarkan SC 2, 7, 10, Liturgi disebut sebagai perayaan misteri keselamatan Allah (penebusan dan pengudusan oleh Allah dan pemuliaan oleh manusia) yang dilaksanakan oleh Yesus Kristus, Sang Imam Agung bersama Gereja-Nya di dalam ikatan Roh Kudus.
Dilihat dari sisi pelaksananya, liturgi dapat disebut sebagai perayaan Tuhan dan perayaan iman. Disebut perayaan Tuhan karena dalam liturgi, Allah yang berinisiatif menjumpai manusia. Allah yang mencari dan mengundang; bukan manusia yang mencari Allah. Maksud Allah mengundang manusia untuk berpartisipasi dan berperan serta dalam hidupNya. Dan disebut perayaan iman, karena dalam liturgi manusia terlibat dengan menanggapi undangan Tuhan untuk terlibat dalam perjamuanNya.
Karena itu, dari peristiwanya, liturgi menjadi medan sebuah perjumpaan, yaitu perjumpaan antara Allah dan manusia. Perjumpaan itu membawa anugerah keselamatan bagi manusia. Anugerah ini mengalir pada setiap orang yang merayakan dan yang didoakannya, lepas dari disposisi batin orang yang bersangkutan, sebab sakramen bekerja dengan ex opere operato. Disposisi batin lebih menunjuk pada sisi kepantasan dan kelayakan orang saat mengambil bagian dalam perayaan.
Dalam konteks pembicaraan inilah, kita tempatkan kata berliturgi secara sadar dan aktif. Kata sadar dan aktif menegaskan aspek PEMAHAMAN (akal budi) dan KETERLIBATAN (hati) semua umat beriman. Pemahaman menegaskan sisi pengetahuan, dimana semua umat beriman bisa memahami liturgi yang mereka rayakan. Sedangkan keterlibatan menunjuk soal hati, yaitu hati yang terlibat secara penuh dalam liturgi.
Source : http://liturgikas.com/



KEHADIRAN KRISTUS DALAM SELURUH PERAYAAN LITURGI



KEHADIRAN KRISTUS DALAM

SELURUH PERAYAAN LITURGI


Berto selalu rajin mengikuti perayaan Ekaristi setiap hari Minggu di gereja. Sayangnya ia biasa dan bahkan suka terlambat. Suatu kali datang pas lagu Kemuliaan, lain kali pas Injil, lain kali lagi pas homili, dan bahkan pernah pas persiapan persembahan. Ketika ditanya Rini teman dekatnya, Berto menjawab dengan enteng: “Kan yang penting aku rajin ikut Misa, dan lagi yang terpenting kan konsekrasi dan komuni…..saat Tuhan Yesus Kristus hadir!”.
Tidak jarang masih ada umat yang suka terlambat Misa. Umat begini sering tidak merasa bersalah, karena bagi mereka yang terpenting konsekrasi dan komuni. Persis seperti pandangan saudara kita Berto di atas. Gereja sebenarnya selalu memandang perayaan Ekaristi sebagai satu kesatuan perayaan suci, dari awal hingga akhir, katakanlah dari lagu pembuka dan tanda salib hingga sampai dengan berkat serta perutusan di akhir Misa. Salah satu alasan pokok ialah karena dalam seluruh perayaan Ekaristi itu, Tuhan Yesus Kristus hadir sepenuhnya. Konstitusi Liturgi artikel 7 menyatakan: Kristus selalu mendampingi Gereja-Nya, terutama dalam kegiatan-kegiatan liturgis. Kata mendampingi di sini menunjuk makna “hadir” sesuai dengan bagian kalimat-kalimat selanjutnya pada artikel tersebut.
Gereja mengharapkan agar kita menghadiri Misa tidak sebagai penonton ataupun pelanggan seperti yang sedang belanja di swalayan atau mau makan prasmanan dengan datang dan hanya mengambil yang diinginkan saja. Perayaan Ekaristi adalah perayaan bersama seluruh umat yang perlu saling mendukung dan meneguhkan satu sama lain. Keterlambatan hadir bukan saja mengganggu kekhidmatan perayaan liturgi tetapi juga tidak menghormati kehadiran Tuhan dalam seluruh bagian Misa Kudus.
✥ Benedictus Deus ✥
Source : fans iman katolik
https://www.facebook.com/groups/444144782302456/

Masih Katolik Romakah Anda?

Masih Katolik Romakah Anda?

Pada suatu hari, dalam sebuah kesempatan pembelajaran liturgi saya bertanya kepada beberapa anak muda.“Jika disuruh memilih, Anda memilih Ekaristi yang cepet atau yang lama?” tanyaku kepada mereka. Serentak mereka menjawab, “Jelas milih Ekaristi yang cepet tho, Romo!” Jawaban ini tentu saja menarik perhatian. Rupa-rupanya, ada banyak umat yang melihat dan menyukai perayaan Ekaristi yang cepat.“Lalu, kamu lebih suka Ekaristi Mingguan di Gerejamu atau memilih EKM?” Tanpa pikir panjang, layaknya koor, mereka menjawab, “EKM….”“Umumnya, misa mingguan di paroki itu 1 jam 15 menit. Kalau EKM itu sekitar 2 jam. Bisa lebih. Katanya kalian suka Ekaristi yang cepat? Mengapa lebih memilih EKM yang nyatanya lebih lama?” tanyaku menyelidik.Mereka sejenak diam. Lalu salah seorang dari mereka menjawab, “Kalau EKM itu kan seru, romo. Ada drama. Lagu-lagunya anak muda banget.”Jawaban anak-anak muda ini terlihat jujur dan apa adanya. Dan itulah yang mereka rasakan. 

Jawaban itu sekaligus menunjukkan kedalaman pemahaman mereka mengenai hakekat Ekaristi Kudus. Kedalaman pemahaman mengenai hakekat liturgi yang kudus inilah kunci dalam sebuah perayaan liturgi. Liturgi tidak pernah menjadi perayaanku (sebagai imam, sebagai petugas, atau sebagai umat). Liturgi adalah perayaan seluruh Gereja.Semua hal yang terlihat dan terungkap melalui imam dan para petugas selama perayaan liturgi itu adalah bagian dari dimensi kelihatan liturgi Gereja. Semua unsur dan simbol dalam liturgi Gereja pada intinya sebenarnya hanya mau menghadirkan Misteri Kristus dan hakekat asli Gereja yang sejati. Betapa agung perayaan liturgi itu, sebab di situ terlaksanalah karya penebusan kita, yakni Tuhan Yesus Kristus yang hadir dan menyelamatkan kita dan bersama seluruh Gereja kita menanggapi karya penebusan itu dengan pujian dan pemuliaan Allah. 

Konstitusi Liturgi artikel 2 menyebutkan pula bahwa liturgi mau memperlihatkan kepada orang-orang lain realitas tentang Gereja yang bersifat sekaligus manusiawi dan Ilahi, kelihatan namun penuh kenyataan yang tak kelihatan, penuh semangat dalam kegiatan namun meluangkan waktu juga untuk kontemplasi, hadir di dunia namun sebagai musafir. Dan semua itu berpadu sedemikian rupa, sehingga dalam Gereja apa yang insani diarahkan dan diabdikan kepada yang ilahi, apa yang kelihatan kepada yang tidak nampak, apa yang termasuk kegiatan kepada kontemplasi, dan apa yang ada sekarang kepada kota yang akan datang, yang sedang kita cari.Kita bisa merenungkan dan mengartikan sebuah kalimat pendek: seperasaan dengan Gereja. Dalam konteks berliturgi: apakah liturgi yang kita buat dan rayakan sudah seperasaan atau seperti yang diinginkan oleh Gereja yang kudus? Gereja yang kudus mengajarkan liturgi sebagai perayaan Misteri Paskah. Ketika berliturgi kita merayakan misteri karya keselamatan Allah yang telah terlaksana melalui Yesus dalam Roh Kudus. 

Untuk memastikan terlaksananya perayaan Ekaristi yang seperti ini, Gereja yang kudus membuat aneka peraturan, baik yang baku dan tidak bisa diubah maupun bagian-bagian yang bisa disesuaikan dengan konteks namun sesuai dengan kaidah-kaidahnya.Sayangnya, keagungan liturgi ini sering direduksi menjadi perayaanku atau perayaan kami sebagai sebuah komunitas. Berbagai aturan Gereja diubah dan disesuaikan menurut seleraku atau selera komunitas. Semuanya itu mampu dibingkai dalam sebuah penalaran yang hebat dan masuk akal. Liturgi dari bawah atau liturgi dari umat sering menjadi reffrein untuk menjadi pembenaran atas pelanggaran-pelanggaran berliturgi sebagai mana dimaksudkan oleh Gereja. 

Semuanya itu dibuatkan semata-mata untuk memuaskan keinginan dan rasa pribadi atau komunitas.Dengan tegas, Gereja mengajarkan bahwa (1) wewenang mengatur liturgi semata-mata dimiliki oleh pimpinan Gereja, yaitu Takhta Apostolik, dan menurut kaidah hukum pada uskup; (2) wewenang mengatur liturgi dalam batas-batas tertentu juga dimiliki oleh Konferensi Waligereja atau para Uskup, berdasarkan kuasa yang diberikan hukum; (3) sedangkan siapa pun lainnya, termasuk imam, tidak boleh menambahkan atau mengubah sesuatu dalam liturgi atas prakarsa sendiri. Ajaran ini tidak hanya aturan, tetapi dogma yang dihasilkan oleh Konsili Vatikan II dalam SC artikel nomer 22.Saya sebagai imam tidak memiliki yurisdiksi apapun untuk menambahkan atau mengubah sesuatu dalam liturgi kecuali atas izin Bapak Uskup yang memiliki wewenang atas liturgi. Apalagi awam. Mungkin saya memiliki pandangan teologis yang hebat dan luar biasa, tetapi sebagai imam saya harus taat kepada Gereja. Tentu bukan sebuah ketaatan buta, melainkan sebuah ketaatan intelektual bahwa di balik pengaturan ini itu dalam liturgi ada dan hadir misteri iman yang dirayakan, yaitu Tuhan sendiri. 

Bagi Santo Yohanes Paulus II, mengabaikan norma-norma liturgi merupakan sikap yang meremehkan misteri iman kita: misteri ini terlalu agung untuk diperlakukan secara seenaknya (bdk. Ecclesia de Eucharistia artikel 51).Jika sudah demikian, masihkan kita berpikir untuk merayakan Ekaristi layaknya sebuah entertainment? Masihkah kita akan merayakan Ekaristi dengan sudut pandang kepuasan pribadi? Masihkah kita akan membuat dan merayakan Ekaristi sebagai sebuah perayaan yang seru menurut sudut pandang kita semata?Dalam sebuah kesempatan, saya mengikuti sebuah perayaan ekaristi kaum muda di sebuah paroki. Luar biasa hebat. Umat membludak hingga ke parkiran. Sebagian besar orang muda. Ada banyak gaya dan rupa umat dalam mengikuti perayaan ekaristi. Dan saya sungguh tertarik untuk membaca dari cara umat mengikuti perayaan ekaristi. Ada umat yang khusuk mengikuti perayaan Ekaristi. Ada umat dengan gayanya yang khas: rok mini dan sibuk dengan alat komunikasi. Entahlah, mungkin ia sedang mengirimkan SMS intensi doanya kepada Tuhan. Di bagian luar, di sela-sela kendaraan dan pedagang asongan ada banyak umat juga. Enak ya bisa merayakan ekaristi seperti itu. 

Tidak peduli atas apa yang terjadi di dalam Gereja, yang penting nanti ikut ngantri untuk menerima komuni suci.Mungkin ada yang berpendapat jika aturan Gereja itu kaku dan menghambat dinamika umat. Akibatnya umat hanya sekedar menjadi robot-robot semata. Mengapa bisa demikian? Karena kita enggan untuk belajar. Kita sering enggan untuk mengerti apa yang diajarkan Gereja Kudus. Jika kita enggan untuk mengerti dan memahami ajaran Gereja Kudus, bagaimana kita bisa menghayatinya?Tidak mengherankan jika aturan yang ada dirasakan kaku dan mati.Pahami dan buatlah! Dengan cara ini, kita akan mengerti betapa agung liturgi Gereja yang kita rayakan.Masih bagian dari Gereja Katolik Romakah Anda?

Tanggapan : 
  1. gracia on  said:
    Saya dulu juga merasakan hal yang sama, bahwa misa itu begitu membosankan sehingga saya yang kebetulan punya banyak waktu melayani di gereja, mempunyai niat yang sungguh mulia, yaitu membuat misa menjadi menarik dan umat tidak bosa,umat senang. Mulai dari tarian, musik2 instrumen yang menyentuh, lagu2 profan, dan juga lagu2 dengan tingkat kesulitan tinggi. Dipujikah saya??? Woooh jelas sekali… banyak yang suka dengan kreatifitas saya, dan ini membuat saya semakin yakin bahwa apa yang saya lakukan adalah BENAR.
    Sampai suatu ketika saya pindah ke luar kota dan saya terbentur dengan “Eh, itu ga boleh loh. Melanggar liturgi”. Saya pertama merasa tersinggung. Namun saya juga umat yang mau tau, kenapa kok melanggar. Akhirnya saya ingin sekali belajar apa sih itu liturgi, kenapa ini melanggar,kenapa itu melanggar.
    Ternyata selama ini saya memahami liturgi hanya sebatas ATURAN dan BATASAN. Saya tidak tau apa makna dalam setiap tata gerak dan tujuan liturgi. Yang saya tahu hanya ini tidak boleh, itu boleh, lagu harus liturgis, liturgis itu yg di sah kan konverensi para uskup. Tapi saya tidak pernah tahu kenapa disebut liturgis dan kenapa yang sudah di sah kan itu menjadi liturgis. Saya hanya tau, dalam membaca Sabda Tuhan tidak disebutkan bab dan ayat tp saya tidak tahu apa makna dan maksudnya.
    Sekarang saya mmg belum banyak mengerti, namun satu hal yg saya yakini bahwa semua aturan dan liturgi yg sudah diwariskan Gereja selama ini pastilah punya makna dan tujuan yang sangat baik, dan dengan mengetahui makna liturgi kita akan mengetahui yg kita rayakan, dan dijamin bahwa kita akan semakin mencintai Ekaristi Kudus yang agung ini.
    Sekarang saya menyadari bahwa kreatifitas yg dulu saya lakukan itu bukan utk Tuhan, tp untuk kepuasan saya sendiri. Untuk menyalurkan bakat saya. Untuk menyenangkan hati saya yang galau.
    Liturgi dan Ekaristi itu kaku dan membosankan???? belajarlah dahulu..baru anda dapat menyimpulkan.
    *Misericordia et Pax*

Minggu, 08 Juni 2014

Come Holy Spirit



Come Holy Spirit, I need Thee
Come sweet Spirit, I pray,
Come in Thy strength and Thy power,
Come in Thine own gentle way.
Come as the wisdom to children
Come as new sight for the blind,
Come, Lord, as strength to my weakness
Take me, soul, body and mind.

Rabu, 04 Juni 2014

Memilih Capres Ala Katolik dengan Bercermin pada Ajaran Sosial Gereja

Memilih Capres Ala Katolik dengan Bercermin pada Ajaran Sosial Gereja

Gereja Katolik memiliki banyak dokumen yang berkaitan dengan kehidupan sosial kemasyarakatan, yaitu Rerum Novarum (Paus Leo XIII), Pacem in Terris (Paus St.Yohanes XXIII), Centesimus Annus (Paus St.Yohanes Paulus II),  dan bagian kedua dokumen Deus Caritas Est (Paus Benediktus XVI), dan pastinya  Kompendium Ajaran Sosial Gereja.  Ada tujuh tema pokok dalam Ajaran Sosial Gereja.

Sering dikatakan bahwa kita sebaiknya memilih atau membuat keputusan berdasarkan hati nurani. Tetapi menurut Gereja Katolik, hati nurani dapat salah.

Dikarenakan Gereja memandang bahwa hati nurani bukan sekadar perasaan atau intuisi, melainkan selalu berkaitan dengan nalar, maka agar hati nurani tidak salah maka perlu ada nilai-nilai moral yang memandunya. Dalam kaitan dengan hal tersebut, setidaknya, ketujuh tema ini dapat menjadi rambu-rambu bagi seorang Katolik untuk menimbang visi dan misi Capres RI:

1. Hormat kepada Individu Manusia
  • Martabat manusia adalah bahwa ia diciptakan sesuai dengan citra Allah (catatan tambahan: citra Allah, yaitu sebagai laki-laki dan perempuan. Orang yang memiliki kecenderungan homoseksual  tetap dihormati, namun hubungan seksual dan pernikahan sesama jenis tetap dianggap berlawanan dengan kodrat, jadi jangan sampai pernikahan sesama jenis diakui oleh hukum sipil, apalagi atas dasar hak asasi manusia) 
  • Gereja menegaskan bahwa hak untuk hidup dimiliki manusia sejak dalam kandungan(catatan tambahan:sejak sperma berhasil membuahi ovum sudah ada jiwa dalam embrio)
  • (Catatan tambahan: isu-isu seputar poin ini yang dinilai negatif oleh Gereja adalah : aborsi, euthanasia. kloning, penggunaan sel induk embrio untuk kesembuhan,)
  • (Catatan tambahan: Isu-isu seputar poin ini yang dinilai kasuistik: hukuman mati --- sangat dianjurkan menempuh cara lain)
  • (Catatan tambahan: isu yang dinilai tidak bertentangan dengan moral adalah pencabutan alat-alat penyokong kehidupan. Dengan demikian menyerahkan si sakit kepada Allah. Kehendak-Nya selalu yang terbaik.)
  • (Catatan tambahan: setelah hak untuk hidup, hak mendasar berikutnya adalah hak kebebasan beragama.)

2. Mengedepankan Keluarga
  • Manusia tidak pernah merupakan individu melainkan bagian dari keluarga
  • Keluarga merupakan pertimbangan utama pengambilan kebijakan
  • Keluarga adalah unit dasar masyarakat
  • Jaminan upah harus menyokong pasangan dan anak
  • (Catatan tambahan: pada prinsipnya, yang didukung Gereja adalah sistem KB alamiah dengan penghitungan masa subur. Manusia dianugerahi akal budi untuk mengatur kendali seksual. Penggunaan kontrasepsi dalam bentuk apapaun dianggap bertentangan dengan prokreasi --- prinsip ini seringkali diterapkan Gereja dengan pendekatan pastoral case by case)

3. Perlindungan terhadap Hak Kepemilikan Pribadi
  • Hak kepemilikan pribadi menyangkut kebebasan manusia
  • Hak kepemilikian pribadi bukan tanpa syarat. Jika tidak ada cara lain yang menjamin keberlangsungan hidup manusia, maka mengambil kebutuhan dasar dari pihak yang memilikinya secara berlimpah, adalah dibenarkan (St.Thomas Aquinas)
  • Hak kepemilikan pribadi membawa serta tanggung jawab, untuk dijaga dan diupayakan bagi kesejahteraan umum

4. Kerja bagi Kesejahteraan Umum
  • Paus St. Yohanes XXIII mendefinisikan kesejahteraan umum sebagai “jumlah total kondisi sosial yang mengizinkan manusia, sebagai kelompok maupun individu, mencapai kepenuhan mereka secara lebih utuh dan lebih mudah.” (pacem in Terris 55)
  • Paus St.Yohanes Paulus II mendefinisikan kesejahteraan umum sebagai “bukan hanya jumlah total kepentingan-kepentingan tertentu, melainkan juga asesmen dan integrasi kepentingan-kepentingan tersebut atas dasar hierarki nilai-nilai yang seimbang. Utamanya, hal itu menuntut pengertian yang tepat akan martabat dan hak manusia.” (Centesimus Annus 47)
  • Keutuhan manusia mencakup dimensi fisik kesehatan dan dan psikologis
  • Bagaimanapun, betapapun petingnya, kesejahteraan umum bukanlah kebaikan yang tertinggi.  Keutuhan tertinggi setiap manusia dapat ditemukan di dalam Allah, namun demikian kesejahteraan umum ini membantu kelompok dan individu untuk mencapai kebaikan tertinggi,
  • Jika kondisi sosial menjauhkan manusia dari cinta terhadap Allah dan sesama, maka kesejahteraan umum belum tercapai.
  • Menurut Paus St.Yohanes Paulus II, solidaritas bukan sekadar “perasaan iba yang kabur atau stres yang dangkal akan kemalangan banyak orang, melainkan tekad yang kuat dan mantap bertahan untuk membaktikan diri bagi kesejahteraan umum, yaitu kebaikan semua orang dan setiap individu, karena kita bertanggung jawab atas setiap orang.”  (Solicitudo Rei Socialis 38)

5. Menjalankan Prinsip Subsidiaritas
  • Ajaran Katolik mengajarkan bahwa peran pemerintah bukan hanya untuk menekan kejahatan –seperti yang banyak diajarkan pemikir Kristen non-Katolik –melainkan memiliki peran positif, yaitu menjamin kesejahteraan umum.
  • Paus St.Yohanes Paulus menuliskan, “Adalah tugas negara untuk menyediakan ketahanan dan kelestarian kesejahteraan umum, seperti misalnya, lingkungan alam dan manusia, yang tidak bisa dijaga begitu saja oleh kekuatan pasar.” (Centesimus Annus 40)
  • Prinsip subsidiaritas berarti negara harus dapat menyelesaikan segala sesuatu yang tidak bisa diselesaikan dengan cara lain (ketahanan nasional, kerja sama antarnegara, perjanjian-perjanjian, dsb), namun di sisi lain negara tidak boleh ikut campur untuk menuntaskan segala masalah.
  • “Tatanan komunitas yang lebih tinggi tidak boleh ikut campur dalam hidup internal komunitas dalam tatanan yang lebih rendah, (dan) merendahkan fungsi-fungsinya, melainkan harus mendukungnya jika dibutuhkan, dan membanytu mengkoordinasi aktivitasnya dengan masyarakat lainnya, selalu dalam kerangka kesejahteraan umum.” (Centesimus Annus 48)
  • Siapa saja yang berkehendak baik, termasuk umat Katolik, dapat menyampaikan ketidaksetujuannya secara legitim terhadap perundang-undangan ataupun campur tangan pemerintah yang bertujuan menuntaskan masalah sosial.

6. Menghormati Kerja dan Pekerja
  • Allah membiarkan manusia memberi nama pada hewan-hewan setelah mereka diciptakan. Hal ini mengindikasikan bahwa kerja yang dilakukan manusia adalah partisipasi dalam dan mencerminkan pemeliharaan Allah atas semesta.
  • Pekerja bukan robot, bukan sarana produksi bagi pemilik modal, melainkan harus dihormati dan diberi kesempatan untuk membentukl perserikatan untuk menjamin adanya kompensasi (upah) yang adil secara kolektif.
  • Gereja mendampingi pekerja membentuk perserikatan-perserikatan untuk mengatasi dampak buruk industrialisasi.

7. Mencari Perdamaian dan Reksa terhadap Kaum Miskin
  • Perdamaian bukan ketiadaan konflik melainkan seperti yang diungkapkan St.Agustinus: “kedamaian tatanan” (“tranquility of order”)
  • “Teori Perang Berkeadilan” yang dikemukakan St.Agustinus merupakan jalan tengah antara pasifisme (perang dinilai sebagai sesuatu yang jahat secara moral) dan realisme (perang tidak memiliki aturan, yang bertahan adalah yang menang).
  • Perdamaian mencakup tatanan masyarakat yang berkeadilan.
  • Kebijakan sosial diarahkan untuk menciptakan tatanan masyarakat yang berkeadilan
  • Kebijakan sosial harus memperhitungkan kaum miskin

Selamat memilih pasangan Presiden dan Wakil Presiden terbaik untuk Republik Indonesia !

Disarikan dari:

Source : FB Rafael Satria

Rafael SatriaRafael Satria

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India