Desa Bawomataluo (secara harafiah berarti: Bukit Matahari) diperkirakan didirikan antara tahun 1830-1840. Inilah merupakan sebuah perkampungan dengan deretan rumah adat tradisional (Omo Hada) khas Nias Selatan dengan jumlah 137 Omo Hada yang masih utuh, dengan sebuah OMO SEBUA (Rumah Adat Besar/ Rumah Raja di tengah-tengahnya). Perkampungan ini terletak pada ketinggian 324 meter di atas permukaan laut ini, yang dihuni oleh 1310 Kepala Keluarga (KK).
Untuk mencapai desa Bawomataluo dari jalan raya, kita harus menaiki 77 anak tangga (awalnya 80 anak tangga, namun berkurang akibat longsor) dengan latar belakang bentangan desa Orahili dan pemandangan Pantai Sorake dan teluk Lagundri di kejauhan.
Pekarangan seluruh desa itu terbuat dari susunan lempengan bebatuan. Tak jauh dari anak tangga terakhir gerbang Bawomataluo, kita akan melihat sebuah batu lompat setinggi 2,15 meter (batu itu disebut Fahombo atau Hombo Batu dalam bahasa Nias). Di sebelah kiri batu itu terletak Omo Sebua (Rumah Raja) dan di sebelah kanannya terletak Omo Bale (Balai Desa).
Omo Sebua merupakan rumah adat terbesar yang disangga oleh kurang lebih 60 tiang dan beberapa di antaranya merupakan tiang kayu bulat yang sangat besar. Batang-batang kayu raksasa itu konon didatangkan dari pulau Telo dan pulau-pulau lainnya di sekitar pulau Nias dengan cara dihanyutkan ke laut. Kemudian ditarik dari darat ke atas bukit dengan kereta peluncur.
Menurut cerita yang berkembang dalam masyarakat setempat, Omo Sebua ini dibangun oleh 40 pekerja ahli, dan menghabiskan masa empat tahun untuk merampungkannya. Selama empat tahun itu, tiap harinya dua ekor babi disediakan untuk makanan para pekerja. Dan puncaknya, 300 ekor babi dihidangkan saat Omo Hada ini selesai dibangun dan diresmikan. Uniknya, seluruh taring babi selama empat tahun tadi itu, tidak disia-siakan, melainkan dijadikan dekorasi di dalam Omo Hada.
Di depan Omo Hada ini, terdapat meja batu lengkap dengan kursi yang juga dari batu (Daro-daro atau Harefa) serta beberapa menhir. Ada sebuah batu yang menjulang tinggi, yang namanya batu Faulu (batu tanda menjadi raja)