Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 November 2015

KESAKSIAN MUJIZAT DALAM HIDUP LYDIA KANDAU

KESAKSIAN MUJIZAT DALAM 
HIDUP LYDIA KANDAU
Berikut Kesaksiannya :
"Saya rindu menceritakan kepada semua orang, bahwa Tuhan yang saya kenal itu sungguh amat baik".

Kita tau bahwa Kehidupan seorang artis atau selebritis tak akan pernah lepas dari gosip. Demikianlah pembicaraan yang sudah mengakar di masyarakat pada umumnya. Hal ini bisa kita mengerti atau maklumi, karena bagaimana pun juga artis adalah public figure.
Demikian halnya yang dialami oleh seorang artis cantik Lydia Kandau. Kesibukannya digereja dalam pelayanan telah membuat hidupnya berubah dan membuat Ia tenggelam dari keartisannya. Walaupun demikian, label artis yang telah disandangnya itu masih melekat.
Saat ini Lydia Kandau kerap diminta bersaksi di berbagai denominasi gereja di Indonesia. Bahkan baru-baru ini Lydia Kandau mengikuti suatu perjalanan ziarah ke Yerusalem. Istilah cinta buta mungkin dialami oleh wanita berdarah Manado ini. Kisah cintanya dengan pria yang tidak seiman berakhir di pelaminan, sekalipun sempat ditentang oleh pihak keluarga. Tapi ia nekad, atas dasar cinta ia menikah dengan Jamal Mirdad, seorang penyanyi.
Hari-hari yang dilaluinya setelah pernikahan terasa begitu indah. Tapi sebagai umat Kristus, seharusnya ia pergi ke gereja di hari Minggu. Tapi Lydia tidak. Bersama suami tercinta, Ia kerap mengisi hari-harinya dengan jalan-jalan, nonton, atau shopping dan sebagainya.
"Makin lama rasanya kok makin jauh dari Tuhan,"ungkapnya.
Namun, pikiran seperti itu tidak cukup membuat Lydia Kandau berbalik pada Tuhan. Ia seolah menikmati semua itu. Dan sampai tiba tiba Anaknya jatuh Sakit yang cukup Aneh, bahkan sampai kedua anak mengalami sakit 'aneh'. "Syaraf kiri anak saya abnormal," tuturnya. Ia langsung membawanya ke rumah sakit dengan keyakinan setelah ditangani dokter pasti anaknya sembuh. yang terjadi justru sebaliknya. Makin lama kondisi anaknya semakin parah. "Seperti obat-obat yang diberi dokter tidak mempan terhadap penyakitnya. Anak saya seperti mau mati. Matanya tidak mau terbuka," kisahnya. Akhirnya diputuskan untuk membawa anaknya pulang ke rumah.
"Saya menangis dan menangis sambil membaringkan anak saya di tempat tidur. Saya merenung dan larut dalam kebisuan. Seketika saya teringat akan dosa-dosa saya dulu. Saya tidak setia kepada Tuhan. Padahal Tuhan sudah begitu baik ada saya," akunya.
Seketika itu juga, ia berdoa sambil bercucuran air mata. Minta ampun atas segala dosa dan ketidaksetiaannya. Ia betul-betul merasa telah mendukakan hati Tuhan.
"Luar biasa ternyata," ungkapnya. Sesaat ia katakan amin, hati dan batinnya terasa lega sekali. "Plong rasanya. Saya yakin darah Yesus telah menghapus
dosa-dosa saya," tuturnya sumringah.
Lalu ia melihat anaknya yang masih terbaring dalam keadaan yang memprihatinkan. Air matanya jatuh lagi. Ia duduk di sisi tempat tidur sambil mengelus-elus
kepala anaknya. Batinnya berkata, "Tuhan, aku tahu Engkau telah menghapuskan dosaku. Saat ini juga ya Bapa, jikalau Engkau mengasihi aku, tolong sembuhkan anakku. Aku percaya sepenuh jiwa, Engkau sanggup melakukan semua itu. Sebab segala perkara dapat kutanggung di dalam Engkau."
Usai berdoa, ia memuji-muji Tuhan dengan kidung pujian yang tiada putus-putusnya. "Saya berjanji bahwa saya tidak akan pernah berhenti memuji Tuhan sampai Tuhan sembuhkan anak saya," paparnya. Ternyata ajaib, satu jam berselang, mata anaknya perlahan mulai terbuka.
"Perlahan, tapi pasti mata anak saya terbuka. Lalu ia bangun dari tempat tidur. Ajaibnya, di wajahnya tidak ada gambaran kesakitan. Padahal ia baru saja mengalami suatu penyakit yang luar biasa berat untuk anak seusianya. yang terlukis di wajahnya adalah sukacita.
Sungguh ini suatu mujizat. Saya langsung memeluk anak saya sambil berkata: "Terima kasih Tuhan," urainya.
Sejenak diajaknya anaknya berdoa bersama. Mengucap syukur atas kesembuhan yang hanya datang dari Allah. "Tuhan sudah mendengar doa saya," ujarnya saat itu.
Sejak kejadian itu, ia berjanji akan setia melayani Tuhan.
"Saya ingin menceritakan kepada semua orang, bahwa Tuhan itu sungguh baik adanya," tukasnya.
Ternyata badai itu belum berlalu. Sang suami belum merestui kemauannya untuk kembali ke gereja. Apalagi harus membawa anak-anaknya.
"Terpaksa dulu saya berbohong. Membawa anak-anak dengan alasan nonton, renang, jalan-jalan, dan macam-macam. Padahal sebelum atau sesudah kegiatan itu kami ke gereja. Habis kalau tidak begitu, mana bias saya ke gereja," kilahnya.
Kami, lanjutnya, harus main petak umpet. Alkitab dulu biasanya disimpan. Bacanya juga menunggu Jamal pergi.
"Terus terang saya tersiksa dengan keadaan seperti itu," akunya. Tapi ia sudah punya komitmen, bahwa ia tidak akan menjual Tuhan Yesus karena apa pun juga.
Lama-kelamaan Jamal mulai berubah. Ia semakin menghargai saya. Ia pernah mengatakan tidak melarang saya atau anak-anak ke gereja.
"Sukacita sekali saat saya mendengar itu," cetusnya.
Lydia memang punya komitmen bahwa anak-anak harus ikut ibunya. Walaupun dua anaknya bersekolah di Al-Azhar, tapi setiap Minggu, mereka pasti ke gereja.
"Ketika saya mulai pelayanan pun, Jamal tidak melarang. Ia cuma katakan sebaiknya pelayanan di dalam kota saja. Tidak usah sampai ke luar kota," jelasnya.
Isu yang sempat menerpa pemeran "Merry" dalam sinetron
"Gara-Gara" bersama Jimmy dan Sion Gideon ini adalah disharmoni keluarga. Bahkan dikabarkan kehidupan rumah tangganya retak. Ketika dikonfirmasikan dengan tegas
Lydia mengatakan tidak benar demikian. "Jamal itu punya kasih. Bahkan mungkin lebih baik dari orang Kristen sendiri. Ia takut akan Tuhan. Pada dasarnya, ia ingin dihargai, oleh sebab itu ia pun tahu harus menghargai orang lain yang berbeda dengan dia," ungkapnya.
Lalu apakah Jamal mendukung pelayanan Lydia yang nampaknya kian hari intensitasnya kian padat?
"Mendukung tidak, melarang juga tidak," ujarnya.
Saat ditanya apakah pernah ribut-ribut soal agama di rumah, ia menjawab, "Tidak. Tidak pernah. Kami tidak mau mempersoalkan agama. Itu hak masing-masing. Lydia juga menambahkan kalau akhir-akhir ini Jamal sering tanya-tanya tentang firman Tuhan. Bahkan Jamal beberapa kali meminta Lydia membacakan Alkitab sebelum tidur. "Kalau saya marah, Jamal selalu mengingatkan, katanya "kasih," jelasnya. Apakah suatu hari Jamal akan masuk Kristen? "Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan," tutur Lydia menutup perbincangan.

Source : FB Ayob Tabuni

Minggu, 30 Agustus 2015

Bob Sadion:KAYA RAYA BUKAN JAMINAN HIDUP TERHORMAT



Bob Sadino:KAYA RAYA BUKAN JAMINAN HIDUP TERHORMAT

MEMBAWA SELUSIN BODYGUARD BUKAN JAMINAN KEAMANAN. TAPI, RENDAH HATI, RAMAH, DAN TIDAK MENCARI MUSUH, ITULAH KUNCI KEAMANAN.

OBAT DAN VITAMIN BUKAN JAMINAN HIDUP SEHAT. JAGA LISAN BERUCAP, JAGA HATI, ISTIRAHAT CUKUP, MAKANAN GIZI SEIMBANG DAN OLAH RAGA YG TERATUR ITULAH KUNCI HIDUP SEHAT.

RUMAH MEWAH BUKAN JAMINAN KELUARGA BAHAGIA. SALING MENGASIHI, MENGHORMATI DAN MEMAAFKAN, ITULAH KUNCI KELUARGA BAHAGIA.

GAJI TINGGI BUKAN JAMINAN KEPUASAN HIDUP. BERSYUKUR, BERBAGI & SALING MENYAYANGI ITULAH KUNCI KEPUASAN HIDUP.

KAYA RAYA BUKAN JAMINAN HIDUP TERHORMAT. TAPI, JUJUR, SOPAN, MURAH HATI & MENGHARGAI SESAMA ITULAH KUNCI HIDUP TERHORMAT.

HIDUP BERFOYA-FOYA BUKAN JAMINAN BANYAK SAHABAT. TAPI, SETIA-KAWAN, BIJAKSANA, MENGHARGAI, MENERIMA TEMAN APA ADANYA, & SUKA MENOLONG ITULAH KUNCI BANYAK SAHABAT.

KOSMETIK BUKAN JAMINAN KECANTIKAN. TAPI, SEMANGAT, KASIH, CERIA, RAMAH & SENYUMAN ITULAH KUNCI KECANTIKAN.

SATPAM & TEMBOK RUMAH YG KOKOH BUKAN JAMINAN HIDUP TENANG. HATI YG DAMAI, KASIH & TIADA KEBENCIAN ITULAH KUNCI KETENANGAN DAN RASA AMAN.

HIDUP KITA ITU SEBAIKNYA IBARAT "BULAN MATAHARI" - DILIHAT ORANG ATAU TIDAK, IA TETAP BERSINAR. DIHARGAI ORANG ATAU TIDAK IA TETAP MENERANGI. DITERIMA KASIHI ATAU TIDAK IA TETAP 'BERBAGI'.

JIKA ANDA BILANG ANDA SUSAH BANYAK ORANG YG LEBIH SUSAH DARI ANDA, DAN JIKA ANDA BILANG ANDA KAYA BANYAK ORANG YG LEBIH KAYA DARI ANDA. DI ATAS LANGIT MSH ADA LANGIT.

SUAMI, ISTRI, ANAK, JABATAN, HARTA ADALAH TITIPAN SEMENTARA, ITULAH KEHIDUPAN. PADA AKHIRNYA KESEMUA ITU YG KITA LAKUKAN JUGA KESIA-SIAAN.

NIKMATILAH HIDUP SELAMA ANDA MASIH MEMILIKINYA & TERUS BELAJAR UNTUK BERSYUKUR DENGAN KEADAANMU!
KARENA ANDA TIDAK AKAN TAHU KAPAN SANG PEMILIK RAGA AKAN DATANG DAN MENGATAKAN PADA ANDA "INI SAATNYA PULANG!" 


-- Bob Sadino
Source : FB Warta Indonesia

Sabtu, 08 Agustus 2015

Ahok: Buat apa perhiasan? Kalau mati cuma butuh tanah 1x2 meter

Ahok: Buat apa perhiasan? Kalau mati cuma butuh tanah 1x2 meter

Ahok lantik Sekda DKI. ©2014 merdeka.com/muhammad luthfi rahman

Ahok: Buat apa perhiasan? Kalau mati cuma butuh tanah 1x2 meter


 Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), berpesan kepada para jajarannya agar jangan sampai terlibat praktik suap dan gratifikasi saat menjalani tugasnya di lapangan.

Hal itu disampaikannya saat memberikan sambutan, dalam acara Pelantikan dan pengambilan sumpah Pejabat Tinggi Pratama, Administrator, dan Pengawas di lingkungan Pemprov DKI Jakarta.

"Jadi saya pesan, cukupkan lah diri bapak dan ibu sekalian dengan gaji yang ada. Tunjangan Kinerja Daerah (TKD) kita udah lumayan, jangan pikir aneh-aneh," ujar Ahok di Balai Kota DKI Jakarta, Jumat (7/8).

Ahok memberikan contoh selama ia menjalani karir politiknya sejak dulu hingga kini. Dia dirinya mengaku hanya akan mengambil sesuatu yang memang menjadi haknya dalam bekerja.

Dirinya bahkan mengingatkan para jajarannya tersebut, jika yang akan dibawa mati oleh manusia itu bukanlah harta benda, melainkan hasil dari perbuatan baik selama mereka hidup.

"Saya selalu (semenjak) dari DPRD, Bupati, DPR RI, sampai jadi Gubernur, yang tidak resmi tidak akan saya ambil. Mati juga cuma butuh lahan 1x2 meter aja. Jadi buat apa perhiasan? Kalau mati juga anak cucu yang pakai. Jadi saya mending beli makanan yang enak, buah yang mahal. Enggak apa-apa, karena saya yang makan," ujar Ahok.

"Nah itu prinsip ini yang saya kira mau saya peringatkan kepada bapak-ibu. Sekali lagi, gratifikasi dan terima suap itu sangat bahaya. Harta bapak ibu bisa disita dan bisa dikenakan tindakan pencucian uang," pungkasnya.

http://www.merdeka.com/jakarta/ahok-buat-apa-perhiasan-kalau-mati-cuma-butuh-tanah-1x2-meter.html

Rabu, 29 Juli 2015

PERLU BELAJAR DARI GUB.DKI yang BEJO = Bersih, Jujur, Ojodumeh / ora neko-neko

Gbr: Ilustrasi


PERLU BELAJAR DARI GUB.DKI

yang BEJO =

Bersih, Jujur, Ojodumeh / ora

neko-neko 

AHOK berkata Saya lahir di Gantung, desa Laskar Pelangi, di Belitung Timur, di dalam keluarga yang belum percaya kepada Tuhan. Beruntung sekali sejak kecil selalu dibawa ke Sekolah Minggu oleh kakek saya. Meskipun demikian, karena orang tua saya bukan seorang Kristen, ketika beranjak dewasa saya jarang ke gereja.

Saya melanjutkan SMA di Jakarta dan di sana mulai kembali ke gereja karena sekolah itu merupakan sebuah sekolah Kristen. Saat saya sudah menginjak pendidikan di Perguruan Tinggi, Mama yang sangat saya kasihi terserang penyakit gondok yang mengharuskan dioperasi. Saat itu saya walaupun sudah mulai pergi ke gereja, tapi masih suka bolos juga. Saya kemudian mengajak Mama ke gereja untuk didoakan, dan mujizat terjadi. Mama disembuhkan oleh-Nya! Itu merupakan titik balik kerohanian saya. Tidak lama kemudian Mama kembali ke Belitung, adapun saya yang sendiri di Jakarta mulai sering ke gereja mencari kebenaran akan Firman Tuhan.

Suatu hari, saat kami sedang sharing di gereja pada malam Minggu, saya mendengar Firman Tuhan dari seorang penginjil yang sangat luar biasa. Ia mengatakan bahwa Yesus itu kalau bukan Tuhan pasti merupakan orang gila. Mana ada orang yang mau menjalankan sesuatu yang sudah jelas tidak mengenakan bagi dia? Yesus telah membaca nubuatan para nabi yang mengatakan bahwa Ia akan menjadi Raja, tetapi Raja yang mati di antara para penjahat untuk menyelamatkan umat manusia, tetapi Ia masih mau menjalankannya! Itu terdengar seperti suatu hal yang biasa-biasa saja, tetapi bagi saya merupakan sebuah jawaban untuk alasan saya mempercayai Tuhan. Saya selalu berdoa “Tuhan, saya ingin mempercayai Tuhan, tapi saya ingin sebuah alasan yang masuk akal, cuma sekedar rasa doang saya tidak mau,” dan Tuhan telah memberikan PENCERAHAN kepada saya pada hari itu. Sejak itu saya semakin sering membaca Firman Tuhan dan saya mengalami mujizat Tuhan.

Setelah saya menamatkan pendidikan dan mendapat gelar Sarjana Teknik Geologi pada tahun 1989, saya pulang kampung dan menetap di Belitung. Saat itu Papa sedang sakit dan saya harus mengelola perusahaannya. Saya takut perusahaan Papa bangkrut, dan saya berdoa kepada Tuhan. Firman Tuhan yang pernah saya baca yang dulunya tidak saya mengerti, tiba-tiba menjadi rhema yang menguatkan dan mencerahkan, sehingga saya merasakan sebuah keintiman dengan Tuhan. Sejak itu saya kerajingan membaca Firman Tuhan. Seiring dengan itu, ada satu kerinduan di hati saya untuk menolong orang-orang yang kurang beruntung.

Papa saat masih belum percaya Tuhan pernah mengatakan, “Kita enggak mampu bantu orang miskin yang begitu banyak. Kalau satu milyar kita bagikan kepada orang akhirnya akan habis juga.” Setelah sering membaca Firman Tuhan, saya mulai mengerti bahwa charity berbeda dengan justice. Charity itu seperti orang Samaria yang baik hati, ia menolong orang yang dianiaya. Sedangkan justice, kita menjamin orang di sepanjang jalan dari Yerusalem ke Yerikho tidak ada lagi yang dirampok dan dianiaya. Hal ini yang memicu saya untuk memasuki dunia politik.

Pada awalnya saya juga merasa takut dan ragu-ragu mengingat saya seorang keturunan yang biasanya hanya berdagang. Tetapi setelah saya terus bergumul dengan Firman Tuhan, hampir semua Firman Tuhan yang saya baca menjadi rhema tentang justice. Termasuk di Yesaya 42 yang mengatakan Mesias membawa keadilan, yang dinyatakan di dalam sila kelima dalam Pancasila. Saya menyadari bahwa panggilan saya adalah justice. Berikutnya Tuhan bertanya, “Siapa yang mau Ku-utus?” Saya menjawab, “Tuhan, utuslah aku”.

Di dalam segala kekuatiran dan ketakutan, saya menemukan jawaban Tuhan di Yesaya 41. Di situ jelas sekali dibagi menjadi 4 perikop. Di perikop yang pertama, untuk ayat 1-7, disana dikatakan Tuhan membangkitkan seorang pembebas. Di dalam Alkitab berbahasa Inggris yang saya baca (The Daily Bible – Harvest House Publishers), ayat 1-4 mengatakan God’s providential control, jadi ini semua berada di dalam kuasa pengaturan Tuhan, bukan lagi manusia. Pada ayat 5-10 dikatakan Israel specially chosen, artinya Israel telah dipilih Tuhan secara khusus.

Jadi bukan saya yang memilih, tetapi Tuhan yang telah memilih saya. Pada ayat 11-16 dikatakan nothing to fear, saya yang saat itu merasa takut dan gentar begitu dikuatkan dengan ayat ini. Pada ayat 17-20 dikatakan needs to be provided, segala kebutuhan kita akan disediakan oleh-Nya. Perikop yang seringkali hanya dibaca sambil lalu saja, bisa menjadi rhema yang menguatkan untuk saya. Sungguh Allah kita luar biasa.

Di dalam berpolitik, yang paling sulit itu adalah kita berpolitik bukan dengan merusak rakyat, tetapi dengan mengajar mereka. Maka saya tidak pernah membawa makanan, membawa beras atau uang kepada rakyat. Tetapi saya selalu mengajarkan kepada rakyat untuk memilih pemimpin: yang pertama, bersih yang bisa membuktikan hartanya dari mana. Yang kedua, yang berani membuktikan secara transparan semua anggaran yang dia kelola. Dan yang ketiga, ia harus profesional, berarti menjadi pelayan masyarakat yang bisa dihubungi oleh masyarakat dan mau mendengar aspirasi masyarakat. Saya selalu memberi nomor telepon saya kepada masyarakat, bahkan saat saya menjabat sebagai bupati di Belitung. Pernah satu hari sampai ada seribu orang lebih yang menghubungi saya, dan saya menjawab semua pertanyaan mereka satu per satu secara pribadi. Tentu saja ada staf yang membantu saya mengetik dan menjawabnya, tetapi semua jawaban langsung berasal dari saya.

Pada saat saya mencalonkan diri menjadi Bupati di Belitung juga tidak mudah. Karena saya merupakan orang Tionghoa pertama yang mencalonkan diri di sana. Dan saya tidak sedikit menerima ancaman, hinaan bahkan cacian, persis dengan cerita yang ada pada Nehemia 4, saat Nehemia akan membangun tembok di atas puing-puing di tembok Yerusalem.

Hari ini saya ingin melayani Tuhan dengan membangun di Indonesia, supaya 4 pilar yang ada, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya wacana saja bagi Proklamator bangsa Indonesia, tetapi benar-benar menjadi pondasi untuk membangun rumah Indonesia untuk semua suku, agama dan ras. Hari ini banyak orang terjebak melihat realita dan tidak berani membangun. Hari ini saya sudah berhasil membangun itu di Bangka Belitung. Tetapi apa yang telah saya lakukan hanya dalam lingkup yang relatif kecil. Kalau Tuhan mengijinkan, saya ingin melakukannya di dalam skala yang lebih besar.

Saya berharap, suatu hari orang memilih Presiden atau Gubernur tidak lagi berdasarkan warna kulit, tetapi memilih berdasarkan karakter yang telah teruji benar-benar bersih, transparan, dan profesional. Itulah Indonesia yang telah dicita-citakan oleh Proklamator kita, yang diperjuangkan dengan pengorbanan darah dan nyawa. Tuhan memberkati Indonesia dan Tuhan memberkati Rakyat Indonesia.

Silahkan dibagikan, Tuhan Yesus memberkati kita semua


Source : Ratioman Manik
https://www.facebook.com/ratioman.manik.1?fref=ufi

Selasa, 28 Juli 2015

Kestian dan Mengandalkan Pertolongan Yang Terdekat







"ARTI DARI KESETIAAN YANG TAK
 BERUJUNG"
Walaupun si kakek sakitnya parah tapi si nenek masih mau merawat.
Ya Allah aku berdoa kepadamu berikanlah mereka rejeki yang banyak ,
Amiin...
Jangan menunggu pertolongan dari YANG LAIN, apa kah yang bisa kamu berikan dari dirimu sendiri sebagai PERTOLONGAN. Pertolongan adalah tanda kesetiaan terhadap sesama manusia.

Senin, 20 Juli 2015

"JASA IBU TAK TERBALAS,"



"JASA IBU TAK TERBALAS,"

Coba kita renungkan ketika kita kelaparan, tangan ibu yg menyuapi. Ketika kita haus ibu yg memberi minuman.
Ketika kita menangis, tangan ibu yg mengusap air mata. Ketika kita gembira, tangan ibu yg menadah syukur, memeluk kita erat dgn deraian air mata bahagia..
Ketika kita mandi , tangan ibu yg meratakn air keseluruh badan. Membersihkan segala kotoran...


Ketika kita dilanda masalah, tangan ibu yg membelai duka sambil berkata: Sabar ya nak Sabar ya Sayang...
Namun ketika ibu sudah tua dan kelaperan,, Tiada tangan dari anak yg menyuapi. Dengan tangan yg gemetar, ibu menyuapkan sendiri,makanan , kemulutnya dgn linangan air mata.......


Ketika ibu sakit, dimana tangan anak yg ibu harapkan, dapa merawat ibu yg sedang sakit,.? 


,,KETIKA NYAWA IBU TERLEPAS DARI JASADNYA,,,
Ketika jenajah ibu hendak d mandikan,, dimana tangan anak yg ibu harapkan untuk menyirami, jenazah ibu untuk terahir kali,,,??!
Yaa ALLAH....


Berikanlah IBU umur yang panjang, kesehatan jasnani dan rohani yg tak terbatas,, agar aku bisa berbakti kepadanya...
AMIIN YAA ROBBAL'AALLAMIIN...


Source : Afriyanto Arifin

Senin, 13 Juli 2015

TIDAK USAH MEMPERHATIKAN ISTRI TETANGGA; Sexi atau Tidak.!!



TIDAK USAH MEMPERHATIKAN ISTRI
TETANGGA; Sexi atau Tidak.!!


oleh:Emha Ainun Nadjib

Dalam suatu forum saya
bertanya”Apakah anda punya
tetangga?”.


Dijawab serentak “Tentu punya”
“Punya istri enggak tetangga Anda?”
“Ya, punya doooong”
“Pernah lihat kaki istri tetangga Anda
itu?”
“Secara khusus, tak pernah melihat ”
kata hadirin di forum
“Jari-jari kakinya lima atau tujuh? ”
“Tidak pernah memperhatikan”
“Body-nya sexy enggak?” Hadirin
tertawa lepas.


Dan saya lanjutkan tanpa menunggu
jawaban mereka “Sexy atau tidak
bukan urusan kita, kan? Tidak usah kita
perhatikan, tak usah kita amati, tak
usah kita dialogkan, diskusikan atau
perdebatkan. Biarin saja”.


Keyakinan keagamaan orang lain itu ya
ibarat istri orang lain. Ndak usah
diomong-omongkan, ndak usah
dipersoalkan benar salahnya, mana
yang lebih unggul atau apapun. Tentu,
masing-masing suami punya penilaian
bahwa istrinya begini begitu dibanding
istri tetangganya, tapi cukuplah
disimpan didalam hati.


Bagi orang non-Islam, agama Islam itu
salah. Dan itulah sebabnya ia menjadi
orang non-Islam. Kalau dia
beranggapan atau meyakini bahwa
Islam itu benar, ngapain dia jadi non-
Islam? Demikian juga, bagi orang Islam,
agama lain itu salah. Justru berdasar
itulah maka ia menjadi orang Islam
.
Tapi, sebagaimana istri tetangga, itu
disimpan saja didalam hati, jangan
diungkapkan, diperbandingkan, atau
dijadikan bahan seminar atau
pertengkaran.


Biarlah setiap orang memilih istri
sendiri-sendiri, dan jagalah
kemerdekaan masing-masing orang
untuk menghormati dan mencintai
istrinya masing-masing, tak usah rewel
bahwa istri kita lebih mancung
hidungnya karena Bapaknya dulu
sunatnya pakai calak dan tidak pakai
dokter, umpamanya.
Dengan kata yang lebih jelas, teologi
agama-agama tak usah
dipertengkarkan, biarkan masing-
masing pada keyakinannya.


Sementara itu orang muslim yang mau
melahirkan padahal motornya gembos,
silakan pinjam motor tetangganya yang
beragama Katolik untuk mengantar
istrinya ke rumah sakit. Atau, Pak
Pastor yang sebelah sana karena baju
misanya kehujanan, padahal waktunya
mendesak, ia boleh pinjam baju
koko tetangganya yang NU maupun
yang Muhamadiyah. Atau ada orang
Hindu kerjasama bikin warung soto
dengan tetangga Budha, kemudian
bareng-bareng bawa colt bak ke pasar
dengan tetangga Protestan untuk
kulakan bahan-bahan jualannya.


Tetangga-tetangga berbagai pemeluk
agama, warga Berbagai parpol,
golongan, aliran, kelompok, atau
apapun, silakan bekerja sama di bidang
usaha perekonomian, sosial,
kebudayaan, sambil saling melindungi
koridor teologi masing-masing. Bisa
memperbaiki pagar bersama-sama,
bisa gugur gunung membersihi
kampung, bisa pergi mancing bareng
bisa main gaple dan remi bersama

.
Tidak ada masalah lurahnya Muslim,
cariknya Katolik, kamituwonya Hindu,
kebayannya Gatholoco, atau apapun.
Jangankan kerja sama dengan sesama
manusia, sedangkan dengan kerbau dan
sapi pun kita bekerja sama nyingkal
dan nggaru sawah. Itulah lingkaran
tulus hati dengan hati.


Source : Jan Van Bir
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=488051321371106&set=gm.718028641676534&type=1&theater

SUDAH BERAPA LAMA “TIDAK MENGAKU DOSA?”



SUDAH BERAPA LAMA “TIDAK MENGAKU DOSA?”


Satu hal yang istimewa ketika anda dan saya menjadi seorang Katolik adalah dipanggil untuk hidup dalam kekudusan. Kekudusan itu datang dari Allah dan Ia mencurahkannya lewat GerejaNya yang menjadi sumber pengudusan dalam perayaan – perayaan Sakramen, Sakramentalia serta sarana devosi lainnya.

Sakramen Tobat adalah salah satu dari tujuh sakramen yang mendatangkan kekudusan dan rahmat. Sakramen Tobat merupakan tanda kasih Allah kepada umatNya. Ia memperdamaikan seorang pendosa dengan diriNya dan juga terhadap Gereja. Gereja telah diberi kuasa oleh Kristus untuk mengampuni, mengikat dan melepas dosa seseorang (Yohanes 20:23) Melalui Sakramen Tobat, kita beroleh pengampunan dosa dari Allah lewat tindakan sang Imam sebagai In Persona Christi.
Satu hal juga yang perlu kita pertanyakan, bukan kepada orang lain tetapi kepada pribadi kita sendiri. “Kapankah terakhir mengaku dosa?” Waktu sebelum menerima komuni pertama? satu tahun yang lalu? atau bahkan sama sekali belum pernah menyentuh ruang pengakuan? Kemungkinan yang menyebabkan seseorang untuk tidak mengaku dosa adalah ketidaktahuan akan berkat Sakramen Tobat, dan hanya dalam Sakramen tobat, dosa – dosa dilepaskan. Kemungkinan lainnya adalah karena takut kepada pelayan sakramen dengan alasan – alasan yang bervariasi, salah satunya adalah takut jika sang Imam menceritakan dosanya kepada orang lain. Walaupun sesudah dibaptis, seseorang memiliki kemungkinan jatuh dalam dosa, bahkan dalam dosa yang sama. Oleh sebab itu, penting untuk memperbaiki sifat buruk tersebut, salah satunya adalah dengan rutin menerima Sakramen Tobat.
Gereja Katolik mewajibkan umat beriman untuk mengaku dosa setidaknya satu tahun sekali (Kan. 989 – Setiap orang beriman, sesudah sampai pada usia dapat membuat diskresi, wajib dengan setia mengakukan dosa-dosa beratnya, sekurang-kurangnya sekali setahun.) Hal ini juga berlaku dengan penerimaan Sakramen Ekaristi (Kan. 920 – § 1) diwajibkan minimal satu tahun sekali. Nyatanya Ekaristi senantiasa diterima setiap hari Minggu, hari – hari Raya, bahkan dalam Misa harian. Salah? Tidak! Ekaristi sangat bermanfaat, Ia memberikan kekuatan dan rahmat dalam hidup sehari hari. Namun perlu diingat! menerima Ekaristi dalam keadaan dosa berat bukan mendatangkan rahmat, tetapi dosa berat (Kan. 916). Hanya satu saja dosa berat, dapat menjerumukan kita dalam neraka! (KGK. 1861)Jikalau begitu, bukankah kita juga harus rutin menerima Sakramen Tobat agar kita pantas menerima Sakramen – Sakramen Gereja lainnya?
Dengan penyesalan yang mendalam serta bertekad untuk hidup kudus, seseorang memperoleh keselamatan. Sungguh, Sakramen Tobat mendatangkan Keselamatan! (Kan. 987). Melalui Sakramen Tobat, kita menjadi lebih peka terhadap dosa serta semakin memiliki tekad yang kuat untuk menghindarinya.
Jadi, masihkah “saya” menunda menerima Sakramen Tobat? masih takut kepada Imam dengan alasan “membocorkan rahasia”? Tenang! Imam kita yang kudus sudah terikat ‘sumpah’. Seorang Imam tidak dapat menceritakan dosa yang sudah diakui oleh peniten dalam ruang pengakuan kepada siapapun, bahkan terhadap pihak berwajib (ie: negara) dengan cara apapun. Hal ini tercantum dalam hukum Gereja:
Kan. 983 – § 1. Rahasia sakramental tidak dapat diganggu gugat; karena itu sama sekali tidak dibenarkan bahwa bapa pengakuan dengan kata-kata atau dengan suatu cara lain serta atas dasar apapun mengkhianati peniten (yang mengakukan dosa) sekecil apapun.
Ada beberapa tips yang dapat di pakai sebelum mengaku dosa:
Pertama, baiklah dicatat dosa – dosanya dari yang terberat beserta jumlahnya, misalnya: Menyontek saat ulangan umum sebanyak 3 kali. (Kan. 988 – § 1).
Kedua, mungkin situs ini dapat membantu anda dalam merenungi kesalahan – kesalahan yang sudah diperbuat:https://luxveritatis7.wordpress.com/2011/03/29/persiapan-pengakuan-dosa/
Ketiga, jenis dan jumlah dosa kita banyak? akuilah di hadapan Imam. Ia akan sangat bangga dengan keberanianmu
Keempat, Akuliah dosa dosa dengan prinsip 2J. Apa itu? Jujur dan jelas.
Kelima, sebutkanlah dosa, bukan alasan mengapa berbuat dosa itu, apalagi menyalahkan pihak lain.
Satu hal yang perlu di ingat! jangan pernah putus asa jika jatuh ke dalam dosa yang sama lagi. segera akui dosa itu kembali kepada Imam. Allah sungguh sangat mengasihimu karena tekadmu.

Jumat, 10 Juli 2015

TURIS BULE SEDANG MENYUAPI WARGA LOKAL YG CACAT


Kamis, 18 Juni 2015

Perjalanan menuju imamat



Perjalanan menuju imamat

Perjalanan menuju imamat sungguh merupakan tantangan berat karena meniru Kristus sepenuh-penuhnya. Aku tahu semua itu tidak mungkin terjadi bila hanya mengandalkan kekuatanku sendiri. Semua hal tersebut berada di luar kekuatan kodratku (super: di atas, natural: kodrat; Latin). 

Untuk mampu meniru seseorang yang supernatural, dibutuhkan pula kekuatan supernatural. Kekuatan supernatural itu Ia sediakan melalui Tubuh dan Darah-Nya, yang Ia berikan secara melimpah. Dalam Ekaristi, Tubuh, Darah, Jiwa, dan KeAllahan Kristus hadir secara nyata, mencurahkan rahmat adikodrati yang diperlukan setiap manusia, terutama aku, untuk mengikuti jejak-Nya. 

Gulali ini, betapapun manisnya, tidak ada bandingnya dengan Ekaristi yang Kristus hadiahkan pada dunia. Semoga dengan menyatu bersama Kristus yang supernatural melalui Ekaristi, aku yang natural ini bisa diangkat hingga menyerupai Dia, Sang Imam Agung Pengantara.

“Sebagaimana dua lilin disatukan menjadi satu, begitu pula ia yang menerima Komuni Kudus menjadi begitu bersatu dengan Kristus, di mana Kristus ada di dalamnya dan ia dalam Kristus.” – St. Sirilus dari Alexandria.


Source : Tetra Roos Kumalasari

APAKAH " IBU " SOSOK YANG SELALU BERBOHONG...???



APAKAH " IBU " SOSOK YANG SELALU BERBOHONG...???

Seorang ibu dalam hidupnya membuat kebohongan :
1. Saat makan, jika makanan kurang, Ia akan memberikan makanan itu kepada anaknya dan berkata, “Cepatlah makan nak, ibu tidak lapar.”

2. Waktu makan, Ia selalu menyisihkan lauk ikan dan daging untuk anaknya dan berkata, “ibu tidak suka daging, makanlah, nak..”

3. Tengah malam saat dia sedang menjaga anaknya yang sakit, Ia berkata, “Istirahatlah nak, ibu masih belum ngantuk..”

4. Saat anak sudah tamat sekolah, bekerja, mengirimkan uang untuk ibu. Ia berkata, “Simpanlah untuk keperluanmu nak, ibu masih punya uang.”


5. Saat anak sudah sukses, menjemput ibunya untuk tinggal di rumah besar, Ia lantas berkata, “Rumah tua kita sangat nyaman, ibu tidak terbiasa tinggal di sana.”


Saat menjelang tua, ibu sakit keras, anaknya akan menangis, tetapi ibu masih bisa tersenyum sambil berkata, “Jangan menangis sayang, ibu tidak apa apa.”
Ini adalah kebohongan terakhir yang dibuat ibu. Tidak peduli seberapa kaya kita, seberapa dewasanya kita, ibu selalu menganggap kita anak kecilnya, mengkhawatirkan diri kita tapi tidak pernah membiarkan kita mengkhawatirkan dirinya.


Renungan : "Semoga semua anak di dunia ini bisa menghargai setiap kebohongan seorang Ibu, karena beliaulah `malaikat` nyata yang dikirim TUHAN untuk menjaga kita...
Bersyukurlah bagi kita yang masih bisa mencium tangan ibu, didalam kita menjalankan ibadah Puasa


Ramadhan ini, karena ridhonyalah ridho Allah..SWT....Wassalam

Source : Afriyanto Arifin

Minggu, 07 Juni 2015

SEJARAH HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS


SEJARAH HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS

Secara tradisonal, pada awalnya sebutan yang tepat untuk Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus adalah Sollemnitas Sanctissimi Corporis Christi, yang kemudian dalam penggunaan populer digunakan frase "Corpus Christi". Pada awalnya memang tidak ada kata "Darah" walaupun dalam teks Misa dan Ibadat Harian (brevir) ada rujukan mengenai kata"Darah"
Perubahan yang terjadi adalah konsekuensi perubahan terhadap Festum Sanguinis Christi (Pesta Darah Mulia). Pesta Darah Mulia adalah salah satu Pesta "devosional" terhadap kemanusia­an Kristus. (Dalam Gereja Katolik ada tiga tingkatan hari-hari istimewa, yaitu Hari Raya/ Solemnitas, Pesta/Festum, dan Peringatan/Memoraria). Pesta ini merupakan bagian dari "Pesta-pesta Sengsara" yang diadakan di hari­hari Jumat dalam Masa Prapaska di banyak tempat. Pesta-pesta ini dirayakan seturut penanggalan gerejawi lokal, dan pada awal abad ke-20 hanya diadakan terutama di tempat-tempat di mana tradisi ini berawal.
Pada 1849, Paus Pius IX menyatakan hari Minggu pertama bulan Juli sebagai Pesta Darah Mulia dan wajib dirayakan secara universal. Namun demikian beliau tidak menghapuskan hari-hari Jumat "Pesta sengsara" yang masih dipraktikan pada berbagai penanggalan gerejawi lokal.
Ketika Paus Pius X melakukan
pembaruan penanggalan liturgi, Pesta Darah Mulia dipindahkan menjadi tanggal t Juli, dan sejalan dengan kerangka liturgis yang ditetapkan pada hari itu, maka banyak keuskupan dan ordo tidak mempraktikan lagi "Pesta-pesta Sengsara". Namun pesta-pesta ini tetap dipertahankan seperti yang tertulis pada appendix buku pedoman misa dengan judul "Pro Aliquibus Locis" (di banyak tempat).
Pada 1961, semua pesta-pesta sengsara termasuk Pesta Darah Mulia yang tercantum dalam appendix, dihapuskan, kecuali apabila ada permintaan dengan alasan yang masuk akal oleh ordo/kongregasi atau Keuskupan yang memiliki keterkaitan istimewa dengan pesta-pesta tersebut, misalnya kongregasi yang kemudian dikenal di Indonesia dengan nama Kongregasi Suster-suster Amalkasih Darah Mulia (ADM).
Kebijakan gerejawi berubah pada masa kepemimpinan Paus Yohanes XXIII. Beliau adalah seorang yang berdevosi pada Darah Mulia. Beliau menambahkan frase --Terpujilah darahNya yang maha indah" (PS No.205), mem­promuigasikan (mengumumkan secara resmi) Litani Darah Mulia \ang disertai dengan indulgensi, dan mempromosikan devosi terhadap Darah Mulia melalui ensiklik "Inde a Primis".
Pada tahun 60-an ada perubahan penanggalan liturgi Gereja
universal. Diputuskan bahwa pesta-pesta devosional harus dipindahkan atau paling tidak diturunkan tingkatannya. Pesta Darah Mulia yang dirayakan pada 1 Juli juga turut dihapuskan, walaupun tidak lama setelah keputusan ini dikeluarkan, banyak petisi dari para Uskup yang mem inta agar Pesta Darah Mulia tetap dilestarikan. Namun demikian Konsili menolak petisi-petisi tersebut dan memutuskan untuk menambahkan kata"Darah" sehingga Hari Raya yang kita rayakan secara resmi hari ini dinamakan "Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus" (Sollemnitas Sanctissimi Corporis et Sanguinis Christi) atau boleh juga disebut "Corpus Sanguinisque Christi". Walaupun demikian, di banyak tempat, secara tradisional umat Katolik sudah telanjur terbiasa dengan penyebutan "Corpus Christi" dan kita pun saat ini tetap boleh menyebut Hari Raya ini sebagai "Corpus Christi" karena toh kita mengimani bahwa Hosti yang kita terima (apabila komuni hanya diterimakan dengan satu rupa), tidak pernah hanya Tubuh Kristus saja, melainkan sekaligus adalah Tubuh, Darah, Jiwa dan Keallahan Kristus, pendek kata SELURUH KRISTUS YANG TELAH WAFAT DAN BANGKIT, DAN KINI BERTAKHTA DI SISI BAPA. Hal ini sesuai juga dengan teks Kitab Suci, Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti ATAU minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap Tubuh DAN Darah Tuhan (1 Kor 11:27). dari berbagai sumber
Selamat merayakan "Sollemnitas Sanctissimi Corporis et Sanguinis Christi"!
Salam dan berkat, RP. And. M. Siswinarko SCJ

Source : Warta Paroki St Barnabas Pamulang - Tangsel

Text Box: Warta Paroki Santo Barnabas

Selasa, 02 Juni 2015

Rosario Senjata Ampuh Melawan Setan


Rosario Senjata Ampuh Melawan Setan

"Salam Maria" dibawa dari surga oleh Malaikat Agung St Gabriel, utusan Tritunggal Mahakudus

Teks berikut dari Pater Gabriel Amorth, kepala eksorsis Vatican, dikutip dari "Gema Maria, Ratu Damai" edisi Maret-April 2003.

Surat Apostolik Paus Yohanes Paulus II baru-baru ini, "Rosarium Virginis Mariae" (diterbitkan 16 Oktober 2002) mendorong segenap umat Kristiani untuk kembali ke doa yang dengan sungguh dianjurkan baik oleh para paus terakhir maupun penampakan-penampakan Maria yang terjadi belakangan ini. Paus Paulus VI menyebut rosario sebagai suatu ringkasan Injil. Guna membuatnya lebih lengkap, Paus Yohanes Paulus II menambahkan "misteri terang" yang meliputi kehidupan Yesus di depan publik. Padre Pio menyebut untaian manik-manik rosario sebagai senjata yang luar bisa ampuh melawan setan.

Suatu hari seorang rekan saya mendengar iblis mengatakan dalam suatu eksorsisme: "Tiap Salam Maria adalah bagai suatu hantaman di kepalaku. Andai umat Kristen tahu betapa ampuhnya rosario, itu akan menjadi akhir dari riwayatku." Rahasia yang menjadikan doa ini begitu efektif adalah bahwa rosario adalah sekaligus doa dan meditasi. Rosario disampaikan kepada Bapa, kepada Santa Perawan, dan kepada Tritunggal Mahakudus, dan merupakan suatu meditasi yang berpusat pada Kristus.

Sekarang, lebih dari sebelumnya, dunia membutuhkan doa dan meditasi. Dunia membutuhkan doa sebab orang telah melupakan Allah, dan tanpa Allah dunia telah menempatkan dirinya di tepi sebuah jurang. Inilah sebabnya mengapa dalam pesan-pesannya, Bunda Maria begitu mendesak kita untuk berdoa. Tanpa pertolongan Allah, setan menang. Dunia juga membutuhkan meditasi sebab jika kebenaran-kebenaran agung Kristen dilupakan, jiwa menjadi kosong. Kekosongan ini diambil alih oleh musuh, dan ia mengisinya dengan dustanya. Dan sekarang kita melihat hasilnya dengan berkembangluasnya kepercayaan akan takhayul dan hal-hal gaib.

Bahaya paling nyata terhadap masyarakat kita sekarang adalah runtuhnya keluarga. Ritme dunia sekarang ini telah memecah-belah keutuhan keluarga. Sedikit waktu dihabiskan bersama, dan bahkan ketika keluarga bersama, para anggotanya tidak saling berbicara sebab televisilah yang berbicara. Di manakah gerangan keluarga-keluarga yang mendaraskan rosario bersama pada sore hari? Paus Pius XII mendesak di jamannya: "Jika kalian berdoa rosario bersama, kalian akan mengalami damai dalam keluarga kalian; kalian akan akrab bersama." "Keluarga yang berdoa bersama, bersatu teguh," demikian kata Pater Peyton, rasul Rosario keluarga yang tak kenal lelah. "Setan menghendaki perang," demikian kata Bunda Maria suatu hari di Medjugorje. Baik, rosario adalah senjata yang dapat menjamin damai dunia, sebab rosario adalah suatu doa dan suatu bentuk meditasi yang dapat mengubah hati orang dan mengalahkan musuh.


  Dilindungi Rosario

Peristiwa Perang Dunia II yang membangkitkan ilham berikut ini, ditulis oleh Sr. Mary Sheila O'Neil dan dimuat dalam edisi Oktober-Desember 1979 Garabandal Magazine (P.O. Box 606 Lindenhurst, New York 11757 USA), juga mencetitakan kuasa rosario:

Suatu hari yang sibuk di bulan Maret. Pada tahun 1950an sebagai seorang kepala guru, aku harus memastikan bahwa setiap hari ada cukup waktu untuk dua peran yang berbeda. Pada tanggal empat Maret, suatu insiden antara seorang guru dan orangtua membuatku mangkir dari kelas nyaris selama satu jam pagi itu, sehingga sepanjang sisa hari, aku berupaya keras untuk mengejar ketinggalan waktu di kelas. Begitulah, ketukan di pintu pada pukul 2:00 siang itu tidak aku harapkan.

Dengan lega, aku dapati bahwa ternyata hanya seorang salesman yang membutuhkan tanda-tanganku dan bahkan menawarkan penanya. Sementara ia melakukannya, rosarionya menyangkut ke klip pena dan ikut keluar. Aku menandatangani seraya mengatakan acuh tak acuh, "Jadi, Anda adalah seorang Katolik." "Oh bukan," jawabnya, "tetapi banyak dari antara kami yang berhutang nyawa kepada Bunda Maria, dan aku berjanji kepadanya bahwa aku aku akan selalu membawa rosarioku dan mendaraskannya setiap hari."

Duapuluh menit kemudian, aku masih di pintu mendengarkan, dengan takjub, kisah salah satu dari pengalaman-pengalaman mengagumkan sekelompok pilot bersama Bunda Maria. Tamuku tampak ragu memulai, sebab ia memperhatikan sambutan dinginku saat membuka pintu. Tetapi, antusias mendengarkan kisahnya, aku meyakinkannya bahwa kelas sedang mengerjakan latihan, dan memintanya untuk meneruskan ceritanya. Ia pun melanjutkan:  

Waktu itu adalah bulan Mei 1940, dan kami telah bergabung dengan Angkatan Udara akhir September. Di Halifax, kepada kami diberikan suatu pelatihan intensif, sebab mereka membutuhkan kami untuk tugas luar negeri, dan bagi kami para pemuda, keseluruhan program tersebut sungguh menarik.

Kami dikelompokkan dalam skwadron- skwadron, masing-masing terdiri dari enam hingga sepuluh pesawat, dan masing-masing dilatih maneuver sebagai satu kesatuan. Karenanya ada sekitar tigapuluh hingga limapuluh orang dalam satu skwadron, bersama pemimpin skwadron yang memberikan semua perintah dan menjaga kerja kelompok dalam kesatuan.

Pada bulan Mei, kepada skwadron kami diberitahukan bahwa kami akan bertugas ke luar negeri dan akan beraksi segera. Kami akan bekerja dalam misi-misi malam hari di atas wilayah musuh hingga perang berakhir. Kami menantikan pemimpin skwadron kami yang baru, yang akan tiba dalam dua hari pada pukul 9:00 dengan pesawat militer. Sebagai seorang pejabat, kami pikir ia akan segera ke markas pejabat.

Kami melihat pesawatnya, memandangnya sekilas dari kejauhan, dan undur diri menanti hingga keesokan hari untuk "menilainya". Beberapa jam kemudian, pemimpin skwadron ini, Stan Fulton, dalam seragam lengkap, memasuki barak kami.

"Baiklah teman-teman, kita akan melewatkan jam-jam berbahaya bersama, tetapi baiklah kita berharap bahwa kita semua akan berjumpa kembali di sini ketika semua sudah usai. Ah, ada ranjang kosong dan aku lelah! Aku akan temui masing-masing kalian besok."

Seraya berkata, ia melemparkan ranselnya di sebuah ranjang atas. Pemimpin skwadron kami, seorang pejabat, tidur di sini bersama kami! Kami semua langsung suka padanya dan rasa suka kami dan hormat kami kepadanya bertumbuh setiap hari.

Malam pertama itu ia berlutut di lantai dan mendaraskan rosarionya dalam keheningan. Terperanjat, kami semua diam membisu. Ketika selesai, ia memandang kami dengan senyum bersahabat dan mengatakan, "Aku harap kalian tak berkeberatan seorang teman mendaraskan doa sebab ke mana kita pergi, kita akan membutuhkannya."

Keesokan harinya latihan maneuver, di bawah perintahnya, meyakinkan kami bahwa Fulton bukanlah sekedar pemimpin militer kami, melainkan sahabat kami. Ia salah seorang dari kami; ia tak pernah berusaha mengintimidasi kami dengan posisinya.

Malam itu, ia mengulang sesi doanya. Meski kelompok kami telah berlatih bersama setidaknya selama enam bulan, aku tidak pernah meihat seorang pun berlutut dalam doa, dan tak pernah terpikir bahwa ada orang Katolik dalam kelompok kami; tetapi pada malam ketiga tiga orang rekan mengabungkan diri bersama Fulton mendaraskan Rosario. Sebagian besar dari kami tidak mengerti, tetapi kami dengan hormat  menjaga keheningan.

Beberapa malam sesudahnya - kami adalah orang-orang yang cepat belajar - kami semua menjawab Salam Maria dan Bapa Kami. Fulton kelihatan senang, dan demikianlah kami mengakhiri setiap hari dengan doa.

Pada tanggal 1 Juni 1940 kami akan meninggalkan Halifax untuk memulai serangkaian serangan malam dari Inggris atas Jerman. Sore sebelumnya, Fulton memberikan kepada masing-masing kami seuntai Rosario.

"Kita akan berada dalam situasi-situasi sulit, tetapi, jika kalian setuju, kita akan mendaraskan Rosario. Jika kalian berjanji untuk membawa Rosario bersamamu senantiasa sepanjang hidupmu dan mendaraskannya, aku dapat menjanjikan kepada kalian bahwa Bunda Maria akan membawa kalian semua kembali dengan selamat ke Kanada."

Kami menjawab, "Pasti." Tak terbayangkan bahwa kami akan bertugas selama empat tahun, berulang kali dalam bahaya mengerikan dengan tembakan-tembakan sekeliling kami. Di saat-saat demikian, suara Fulton menggema menembus setiap pesawat, "Salam Maria…" Betapa khusuk dan tulus kami menanggapinya! Berapa ratus Rosario pastilah telah kami daraskan.

Sesudah dua tahun, tercatat bahwa kami adalah satu-satunya skwadron yang tak kehilangan sebuah pesawat atau satu nyawa sekalipun. Kami tak mengatakan apa-apa, tapi kami tahu.

Pada akhirnya, perang yang mengerikan usai sudah. Sepanjang tahun-tahun itu kami kehilangan segala rasa antusias dan jiwa petualang. Satu-satunya kepedulian kami adalah selamat! Dan kami sungguh selamat pula. Semua pulang ke Kanada pada tahun 1945, sepenuhnya yakin bahwa Bunda Maria telah memelihara kami.

Jadi, aku tiada pernah lupa membawa rosarioku bersamaku dan mendaraskannya setiap hari meski aku bukanlah seorang Katolik. Apabila aku berganti celana panjang, hal pertama yang aku pindahkan, bahkan sebelum dompetku, adalah rosarioku.


Artikel ini dipublikasikan dalam jurnal "Michael" edisi Mei-Juni-Juli 2003

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India