Rabu, 02 Oktober 2013

Suster-Suster Dominican


Ice cream for recreation in the novitiate on a hot Saturday night! Sr. Mary Cecilia loves that idea!


Sr. Mary Jacinta finds joy in embracing the Cross!




Sisters on a Sunday! The finale of Sr. Mary Catharine's flower garden! No matter how early you start the seeds indoors the flowers always look their best by September!







Here is the monastery today!



Our sisters at the MTS had another sort of monastic studies...peeling and drying bananas! The Lufkin community got a 18 cases of bananas! Obviously, Sr. Joseph Maria is enjoying going bananas

 



A triple rainbow ended a beautiful day of celebration as we had our celebration in honor of Sr. Joseph Maria's solemn profession. More photos to come.


 
Only 1 day left for the Thank you, Mom soap sale! The sisters are busy in the soap room and shipping. We're pretty much able to get orders out the next day so if you order by tomorrow you should have your Mother's Day gifts by Friday or Saturday.


Sr. Mary Jacinta with her short novice mistress, Sr. Mary Catharine



 
It was Stollen baking day today! Sr. Mary Magdalene, Sr. Mary Catharine (our master baker) and Sr. Mary Jacinta have a system going of buttering each loaf and then coating it in both regular and confectioner's sugar! The count? about 65 loaves!




Sr. Denise Marie and Sr. Mary talking in front of St. Dominic's orange tree. This tree is 133 years old and is from a shoot from the 800 year old tree planted by St. Dominic at Santa Sabina in Rome!


Trying on a few of Sr. Maria Teresa's new hats and you know they have to have a little fun! Happy Feast of the Epiphany!




Source : FB Dominican Nuns

Bahwa Hidup Ini Adalah Sebuah KEKAYAAN.



Bersyukurlah dalam keadaan apapun.














Selasa, 01 Oktober 2013

Dekat dengan Sang Bunda akan membuat kita juga dekat Sang Putera, Yesus Tuhan kita.



PEMBUKAAN BULAN ROSARIO - 1 OKTOBER 2013 di NAGAHUTA


Dekat dengan Sang Bunda akan membuat kita juga dekat Sang Putera, Yesus Tuhan kita.

Sejak sore tadi langit menghitam dan suara guntur terus berkejar-kejaran di seluruh wilayah Pematangsiantar. Logika manusia pasti menagtakan bahwa hujan lebat akan turun. Namun tak setetes pun air hujan turun di Nagahuta selama acara Pembukaan Bulan Rosario yang dilangsungkan sejak sore tadi sampai malam ini. 

Seperti biasa pada pembukaan bulan Rosario seperti ini, ribuan umat dari segala pelosok dan paroki di Pematangsiantar dan sekitarnya datang berkumpul di Nagahuta menyampaikan hormat dan cintanya kepada Bunda Maria. Tua muda, pria dan wanita, kaum biarawan-wati dan kaum awam, semuanya serentak menyanyikan "Ave, ave, ave Maria". 


Mari kita isi bulan Oktober ini dengan berdoa rosario sebanyak mungkin, baik secara kelompok maupun secara pribadi. Dekat dengan Sang Bunda akan membuat kita juga dekat Sang Putera, Yesus Tuhan kita.

( Pst  Leo Sipahutar Ofmcap )











Source : FB Leo Sipahutar Ofmcap
Leo Sipahutar Ofmcap

5 Aksi Jokowi ini dipuji media asing

Foto: 5 Aksi Jokowi ini dipuji media asing  1. Naik gerobak saat banjir Media besar asal Amerika Serikat, Foxnews pernah menulis panjang lebar soal Jokowi. Media itu menulis sepak terjang Jokowi dalam menangani banjir di Jakarta, Januari 2013.  Selama beberapa hari ini, Jokowi sibuk turun ke lapangan. Mengunjungi korban banjir dan mengecek lokasi-lokasi banjir. Paragraf pertama di Foxnews menulis Jokowi saat naik gerobak sampah mengunjungi korban banjir.  Kedatangan Jokowi langsung mendapat sambutan hangat. Banyak anak-anak yang mengerubungi mantan wali kota Solo tersebut karena hanya ingin sekedar salaman. "Pada musim kemarau nanti, kita akan melakukan sesuatu yang konkret untuk mengatasi banjir," kata Jokowi.  Selain soal banjir, Foxnews juga menulis soal langkah Jokowi menaikkan upah buruh dan masalah kesehatan dan pendidikan. Program kilat Jokowi ini diperkirakan akan terus mendapat dukungan warga Jakarta.  2. Blusukan Jokowi mendapat perhatian dari majalah The Economist edisi Asia. Majalah tersebut menyebut Jokowi sebagai Mr Fix. Arti Mr Fix sangat luas, bisa memperbaiki atau merapikan.  Majalah ini mengulas sepak terjang Jokowi yang rela turun ke kampung-kampung kumuh untuk menata Jakarta. Istilah yang sering dipakai Jokowi adalah blusukan.  100 hari masa kerjanya, Jokowi langsung memperbaiki sistem pelayanan di bidang pendidikan dan kesehatan dengan meluncurkan Kartu Jakarta Pintar (KJP) serta Kartu Jakarta Sehat (KJS). Majalah ini juga menulis soal rencana-rencana Jokowi untuk menata PKL, banjir, dan mengatasi kemacetan.  3. Kirim bass Metallica ke KPK Media di Arab Saudi ternyata juga memantau sepak terjang Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi). Adalah arabnews.com sering mengulas mantan wali kota Solo tersebut.  Terakhir Arab News memberitakan Jokowi melaporkan gitar bas hadiah dari personel band Metallica kepada KPK. Sama seperti berita yang beredar di Indonesia, dalam berita edisi 7 Mei tersebut disebutkan pengembalian itu dilakukan Jokowi karena khawatir tersangkut gratifikasi.  "Gubernur Jakarta, Joko Widodo yang merupakan penggemar musik metal akhirnya menyerahkan gitar pemberian Metallica kepada lembaga antikorupsi. Padahal sebelumnya, Jokowi dengan muka berseri-seri memamerkan gitar pemberian basis Metallica, Robert Trujillo kepada televisi setempat. Di gitar tersebut terdapat tanda tangan Robert Trujillo berserta tulisan "Giving Back!.. Keep Playin' That Cool Funky Bass!." tulis arabnews.com, Selasa (7/5).  4. Masuk gorong-gorong Syed Nadzri Syed Harun, seorang kolumnis Malaysia, menulis tentang kondisi negeri jiran itu menjelang pemilu dikaitkan dengan sepak terjang Jokowi. Tulisan Syed Nadzri Syed Harun dilansir koran The Malay Mail, Selasa (19/2).  "Jokowi bahkan mau masuk ke gorong-gorong dan mengunjungi daerah kumuh serta berbicara dengan rakyat miskin tentang akses kesehatan dan pendidikan," tulis Nadzri.  Tak hanya itu, Nadzri menyoroti kondisi kemacetan parah yang selalu melanda Ibu Kota Kuala Lumpur, Johor Baru, dan Penang, hingga menyebabkan kualitas kehidupan menurun. Dia mengangkat kisah Jokowi yang akan mewujudkan pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) di Jakarta untuk mengatasi kemacetan.  Nadzri kembali menegaskan buruknya kondisi Malaysia saat ini yang banyak dipimpin oleh orang-orang yang lebih mementingkan urusan politik ketimbang aksi nyata.  "Kita butuh Jokowi di sini. Dan seperti pernah dia katakan, dia tak ingin jadi presiden. Dia hanya menjalankan pekerjaan mulia."  5. Perhatiannya pada masyarakat BBC menyoroti banjir di Jakarta dan kebijakan Jokowi menyelesaikan permasalahan itu. Artikel tersebut ditulis oleh wartawan BBC Karishma Vaswani.  "Jelang 100 hari kepemimpinannya, Jokowi menghadapi tes pertama. Air berwarna kecoklatan merendam Jakarta tanggal 17 Januari kemarin. Penyebabnya curah hujan tinggi yang menyebabkan tanggul jebol dan sungai meluap."  BBC banyak memuji Jokowi dalam artikel Flooding tests 'Jakarta's Obama'. Mereka menyebut Jokowi sebagai tokoh populer dan mendapat dukungan dari kalangan bawah maupun kalangan menengah Jakarta. Warga Jakarta optimistis Jokowi bisa menyelesaikan masalah banjir di Jakarta. Jokowi juga dikenal sebagai politikus yang bersih dan pekerja keras.  "Mr Widodo adalah politikus yang bersih. Seorang pemimpin yang mendengarkan keluhan masyarakat. Dia kerap disamakan dengan Presiden AS Barack Obama, bukan karena perawakannya yang sama-sama tinggi dan langsing. tetapi karena empatinya pada masyarakat."
Jokowi masuk dalam got, untuk memerksa kemapetan saluran.

5 Aksi Jokowi ini dipuji media asing

1. Naik gerobak saat banjir
Media besar asal Amerika Serikat, Foxnews pernah menulis panjang lebar soal Jokowi. Media itu menulis sepak terjang Jokowi dalam menangani banjir di Jakarta, Januari 2013.

Selama beberapa hari ini, Jokowi sibuk turun ke lapangan. Mengunjungi korban banjir dan mengecek lokasi-lokasi banjir. Paragraf pertama di Foxnews menulis Jokowi saat naik gerobak sampah mengunjungi korban banjir.

Kedatangan Jokowi langsung mendapat sambutan hangat. Banyak anak-anak yang mengerubungi mantan wali kota Solo tersebut karena hanya ingin sekedar salaman. "Pada musim kemarau nanti, kita akan melakukan sesuatu yang konkret untuk mengatasi banjir," kata Jokowi.

Selain soal banjir, Foxnews juga menulis soal langkah Jokowi menaikkan upah buruh dan masalah kesehatan dan pendidikan. Program kilat Jokowi ini diperkirakan akan terus mendapat dukungan warga Jakarta.

2. Blusukan
Jokowi mendapat perhatian dari majalah The Economist edisi Asia. Majalah tersebut menyebut Jokowi sebagai Mr Fix. Arti Mr Fix sangat luas, bisa memperbaiki atau merapikan.

Majalah ini mengulas sepak terjang Jokowi yang rela turun ke kampung-kampung kumuh untuk menata Jakarta. Istilah yang sering dipakai Jokowi adalah blusukan.

100 hari masa kerjanya, Jokowi langsung memperbaiki sistem pelayanan di bidang pendidikan dan kesehatan dengan meluncurkan Kartu Jakarta Pintar (KJP) serta Kartu Jakarta Sehat (KJS). Majalah ini juga menulis soal rencana-rencana Jokowi untuk menata PKL, banjir, dan mengatasi kemacetan.

3. Kirim bass Metallica ke KPK
Media di Arab Saudi ternyata juga memantau sepak terjang Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi). Adalah arabnews.com sering mengulas mantan wali kota Solo tersebut.

Terakhir Arab News memberitakan Jokowi melaporkan gitar bas hadiah dari personel band Metallica kepada KPK. Sama seperti berita yang beredar di Indonesia, dalam berita edisi 7 Mei tersebut disebutkan pengembalian itu dilakukan Jokowi karena khawatir tersangkut gratifikasi.

"Gubernur Jakarta, Joko Widodo yang merupakan penggemar musik metal akhirnya menyerahkan gitar pemberian Metallica kepada lembaga antikorupsi. Padahal sebelumnya, Jokowi dengan muka berseri-seri memamerkan gitar pemberian basis Metallica, Robert Trujillo kepada televisi setempat. Di gitar tersebut terdapat tanda tangan Robert Trujillo berserta tulisan "Giving Back!.. Keep Playin' That Cool Funky Bass!." tulis arabnews.com, Selasa (7/5).

4. Masuk gorong-gorong
Syed Nadzri Syed Harun, seorang kolumnis Malaysia, menulis tentang kondisi negeri jiran itu menjelang pemilu dikaitkan dengan sepak terjang Jokowi. Tulisan Syed Nadzri Syed Harun dilansir koran The Malay Mail, Selasa (19/2).

"Jokowi bahkan mau masuk ke gorong-gorong dan mengunjungi daerah kumuh serta berbicara dengan rakyat miskin tentang akses kesehatan dan pendidikan," tulis Nadzri.

Tak hanya itu, Nadzri menyoroti kondisi kemacetan parah yang selalu melanda Ibu Kota Kuala Lumpur, Johor Baru, dan Penang, hingga menyebabkan kualitas kehidupan menurun. Dia mengangkat kisah Jokowi yang akan mewujudkan pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) di Jakarta untuk mengatasi kemacetan.

Nadzri kembali menegaskan buruknya kondisi Malaysia saat ini yang banyak dipimpin oleh orang-orang yang lebih mementingkan urusan politik ketimbang aksi nyata.

"Kita butuh Jokowi di sini. Dan seperti pernah dia katakan, dia tak ingin jadi presiden. Dia hanya menjalankan pekerjaan mulia."

5. Perhatiannya pada masyarakat
BBC menyoroti banjir di Jakarta dan kebijakan Jokowi menyelesaikan permasalahan itu. Artikel tersebut ditulis oleh wartawan BBC Karishma Vaswani.

"Jelang 100 hari kepemimpinannya, Jokowi menghadapi tes pertama. Air berwarna kecoklatan merendam Jakarta tanggal 17 Januari kemarin. Penyebabnya curah hujan tinggi yang menyebabkan tanggul jebol dan sungai meluap."

BBC banyak memuji Jokowi dalam artikel Flooding tests 'Jakarta's Obama'. Mereka menyebut Jokowi sebagai tokoh populer dan mendapat dukungan dari kalangan bawah maupun kalangan menengah Jakarta. Warga Jakarta optimistis Jokowi bisa menyelesaikan masalah banjir di Jakarta. Jokowi juga dikenal sebagai politikus yang bersih dan pekerja keras.

"Mr Widodo adalah politikus yang bersih. Seorang pemimpin yang mendengarkan keluhan masyarakat. Dia kerap disamakan dengan Presiden AS Barack Obama, bukan karena perawakannya yang sama-sama tinggi dan langsing. tetapi karena empatinya pada masyarakat."


Source : FB Dukung Jokowi for President 2014

BELAJAR KEMISKINAN DARI BUNDA TERESA DARI KALKUTA

Foto: BELAJAR KEMISKINAN DARI BUNDA TERESA DARI KALKUTA   Inilah TEMPAT TIDUR Bunda TERESA dari Kalkuta di Biaranya:  Tentang ini, Edward Sri, seorang Mariolog yang terkenal dengan bukunya: "Walking With Marry," menulis kesaksiannya:  Aku baru saja kembali dari tugas mengajar di Kalkuta, India. Inilah sebuah foto yang kuambil pada kamar, "TEMPAT TIDUR SEDERHANA" Bunda Teresa yang mana beliau tempati selama bertahun-tahun untuk memimpin Kongregasinya "The Missionaries of Charity." Inilah juga tempat tidur yang di atasnya beliau menghembuskan nafas hidupnya yang terakhir pada tahun 1997.  Perhatikanlah bahwa hanya sebuah foto orang kudus yang tergantung di dalam ruangnya, yakni Sta. Theresia si Bunga Kecil dari Lisieux atau Sta. Theresia dari Kanak-Kanak Yesus. Bunda Teresa memiliki devosi yang sangat kuat kepada Sta. Theresia dari Lisieux. Meskipun suster-suster Loretto (Komunitas pertamanya) memberi nama Theresia yang berasal dari nama Sta. Theresia dari Avila, tapi sebenarnya beliau ingin mengambil nama dari Sta. Theresia: Jalan Kecil dari Lisiueux."  Sta. Teresa dan Bunda Teresa, doakanlah kami! ===============================  Pesanku kepadamu, para sahabat malam ini:  Baca, lihat dan renungkanlah yang satu ini; Lewat karyanya yang luar biasa itu, Bunda Teresa dari Kalkuta mendapatkan banyak sumbangan dari beragam orang, institusi dan bahkan Negara dan Kerajaan di seluruh dunia. Namun pertanyaan untuk direnungkan yakni; "APAKAH BELIAU HIDUP DI ATAS KELIMPAHAN KEKAYAAN dalam sebuah istana dan tempat tidur empuk?". Bandingkanlah dengan para pemimpin agama dan gereja yang karena pewartaan, karena kotbah-kotbah, dan karya-karya penyembuhan yang mereka lakukan atas nama Tuhan yang memanggil mereka menjadi pelayan-Nya, yang tak bisa melepaskan diri dari harta benda yang ditawarkan kepada mereka, sehingga hidup mereka pun berkelimpahan susu dan madu.  Bunda Teresa lewat tempat tidurnya yang sederhana itu, seperti layaknya tempat tidur dari St. Yohanes Maria Vianey, atau tempat tidur Paus Emeritus Benediktus XVI di tempat tinggalnya sekarang ini, kita menyadari bahwa "SEMAKIN SESEORANG MENJALIN HUBUNGAN ERAT DENGAN TUHANNYA, MAKAN IA PUN SEMAKIN MENJAUHKAN DIRI, HATI DAN PIKIRANNYA DARI HARYA BENDA, atau setidak-tidaknya kita bisa katakan: "PARA ORANG KUDUS INI MENYADARI BAHWA MEREKA HANYALAH SALURAN RAHMAT BAGI SESAMANYA, SEHINGGA SEGALA YANG MEREKA TERIMA, SEMUANYA PUN DITERUSKAN KEPADA ORANG LAIN," seperti persembahan janda miskin yang memberi semua yang didapatkannya kepada Tuhannya.   Lalu, BAGAIMANA DENGAN ENGKAU DAN AKU?  Sudahkah kita menjadi SALURAN RAHMAT BAGI SESAMA KITA?   Aku selalu percaya bahwa kekosongan yang disebabkan karena tindakan memberi selalu diisi kembali oleh Tuhan dengan berkat baru yang berkelimpahan sehingga si pemberi akan selalu mempunyai sesuatu di dalam hidup dan dirinya untuk dibagikan kepada sesamanya.   Salam dan doa dari seorang sahabat untuk para sahabatnya,  ***Rinnong***

BELAJAR KEMISKINAN DARI BUNDA TERESA DARI KALKUTA


Inilah TEMPAT TIDUR Bunda TERESA dari Kalkuta di Biaranya:

Tentang ini, Edward Sri, seorang Mariolog yang terkenal dengan bukunya: "Walking With Marry," menulis kesaksiannya:


Aku baru saja kembali dari tugas mengajar di Kalkuta, India. Inilah sebuah foto yang kuambil pada kamar, "TEMPAT TIDUR SEDERHANA" Bunda Teresa yang mana beliau tempati selama bertahun-tahun untuk memimpin Kongregasinya "The Missionaries of Charity." Inilah juga tempat tidur yang di atasnya beliau menghembuskan nafas hidupnya yang terakhir pada tahun 1997.

Perhatikanlah bahwa hanya sebuah foto orang kudus yang tergantung di dalam ruangnya, yakni Sta. Theresia si Bunga Kecil dari Lisieux atau Sta. Theresia dari Kanak-Kanak Yesus. Bunda Teresa memiliki devosi yang sangat kuat kepada Sta. Theresia dari Lisieux. Meskipun suster-suster Loretto (Komunitas pertamanya) memberi nama Theresia yang berasal dari nama Sta. Theresia dari Avila, tapi sebenarnya beliau ingin mengambil nama dari Sta. Theresia: Jalan Kecil dari Lisiueux."

Sta. Teresa dan Bunda Teresa, doakanlah kami!
===============================

Pesanku kepadamu, para sahabat malam ini:

Baca, lihat dan renungkanlah yang satu ini; Lewat karyanya yang luar biasa itu, Bunda Teresa dari Kalkuta mendapatkan banyak sumbangan dari beragam orang, institusi dan bahkan Negara dan Kerajaan di seluruh dunia. Namun pertanyaan untuk direnungkan yakni; "APAKAH BELIAU HIDUP DI ATAS KELIMPAHAN KEKAYAAN dalam sebuah istana dan tempat tidur empuk?". Bandingkanlah dengan para pemimpin agama dan gereja yang karena pewartaan, karena kotbah-kotbah, dan karya-karya penyembuhan yang mereka lakukan atas nama Tuhan yang memanggil mereka menjadi pelayan-Nya, yang tak bisa melepaskan diri dari harta benda yang ditawarkan kepada mereka, sehingga hidup mereka pun berkelimpahan susu dan madu.

Bunda Teresa lewat tempat tidurnya yang sederhana itu, seperti layaknya tempat tidur dari St. Yohanes Maria Vianey, atau tempat tidur Paus Emeritus Benediktus XVI di tempat tinggalnya sekarang ini, kita menyadari bahwa "SEMAKIN SESEORANG MENJALIN HUBUNGAN ERAT DENGAN TUHANNYA, MAKAN IA PUN SEMAKIN MENJAUHKAN DIRI, HATI DAN PIKIRANNYA DARI HARYA BENDA, atau setidak-tidaknya kita bisa katakan: "PARA ORANG KUDUS INI MENYADARI BAHWA MEREKA HANYALAH SALURAN RAHMAT BAGI SESAMANYA, SEHINGGA SEGALA YANG MEREKA TERIMA, SEMUANYA PUN DITERUSKAN KEPADA ORANG LAIN," seperti persembahan janda miskin yang memberi semua yang didapatkannya kepada Tuhannya.


Lalu, BAGAIMANA DENGAN ENGKAU DAN AKU?
Sudahkah kita menjadi SALURAN RAHMAT BAGI SESAMA KITA?


Aku selalu percaya bahwa kekosongan yang disebabkan karena tindakan memberi selalu diisi kembali oleh Tuhan dengan berkat baru yang berkelimpahan sehingga si pemberi akan selalu mempunyai sesuatu di dalam hidup dan dirinya untuk dibagikan kepada sesamanya.


Salam dan doa dari seorang sahabat untuk para sahabatnya,

***Rinnong***

Inno Ngutra
FB Rm Inno Ngutra


Uskup Fulton J. Sheen Menyapamu: "ENGKAU MEMBUTUHKAN SEORANG BUNDA"


 

"ENGKAU MEMBUTUHKAN SEORANG BUNDA"

"Allah menempatkan dua penerang besar di langit; 
Matahari yang melambangkan Yesus, Putra-Nya, dan bulan yang melambangkan Maria, ibu Yesus."


Bagi uskup Fulton J. Sheen; Kristus adalah matahari sejati yang darinya cahaya terang benderang bersinar menerangi bumi, tapi Maria mengambil peran yang luar biasa dalam terang putranya, karena sesungguhnya ia ditempatkan bagaikan bulan di malam hari, di mana terangnya menyinari kegelapan bumi. Ya, kegelapan bumi adalah keberdosaan manusia.


Karena itu, menghormati Maria dan memintah pertolongan doa-doanya sambil mendoakan Rosario, sebuah doa yang lengkap karena di dalamnya kita mendaraskan doa-doa utama kekristenan; "Aku Percaya, Bapa Kami, Salam Maria, Kemuliaan serta merenungkan peristiwa-peristiwa gembira, sedih, mulia dan cahaya" bisa membuat jiwa yang berada di dalam kegelapan menemukan seberkas cahaya untuk sampai ke tempat tujuan atau bahkan jiwa yang mendaraskan doa rosario itu sendiri terlindungi oleh doa-doa sang Bunda.


Lebih lanjut uskup Fulton J. Sheen dengan bercanda kepada para peserta seminar tentang peranan Maria; "Suatu waktu di surga ada keributan karena banyaknya orang. Yesus, Sang Pangeran Surga bertanya kepada Petrus; "Mengapa ada keributan? Bukankah Aku sudah memberimu kunci Surga untuk menutupinya di kala malam tiba?" Petrus menjawab-Nya; "Tuhan, aku sudah menjalankan tugasku dengan baik dan setia, mengunci setiap pintu yang ada di dalam Kerajaan-Mu, tapi bagaimana aku bisa melarang Bunda-Mu? Beliaulah yang membuka jendela-jendela Kerajaan-Mu dan memasukan mereka yang telah memintah pertolongannya."(Harap canda sang Uskup dimaknai dengan iman dan bukan untuk didiskusikan apalagi untuk diperdebatkan)

=====================================


Karena itu, kutambahkan kepadamu, para sahabatku:

Jika Yesus, Anak Allah saja membutuhkan rahim seorang wanita untuk tinggal dan hidup; Jika, Ia, Sang Penyelamat saja memerlukan tuntunan dan penyertaan seorang wanita, yang disapa sebagai mama/ibu untuk mengajari-Nya. Lalu, siapakah kita manusia yang lemah dan rapuh ini? Bukankah kita lebih memerlukan seorang mama/ibu daripada Anak Allah itu? Yesus tahu akan kebutuhan kita, maka Ia memberi Maria, ibu-Nya kepadamu, kepadaku, dan kepada kita semua para pengikut-Nya ketika berkata kepada Yohanes, "Inilah Ibumu!" (Yoh 19:27) sebagai ibu yang menemani, menghibur dan menguatkan kita dalam perjalanan iman kita di dunia ini seperti yang dialami oleh para Rasul di saat-saat awal setelah kenaikan Yesus, Sang Guru ke Surga seperti tertulis dalam Kisah Para Rasul; "Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus."(Kis 1:14)


Sekali lagi, kutegaskan; "Maria memang bukan penyelamat, tapi ia bisa menunjukkan jalan bahkan menghantarmu kepada Sang Penyelamatmu, yang tidak lain adalah Putranya sendiri." Sederhana saja kita membela argumen ini; "Jika ada seorang manusia di antara kita yang mengklaim bahwa ia lebih tahu dimana Sang Penyelamat itu berada dan menunjukkan kepadamu jalan ke sana, lalu pertanyaan untuk direnungkan adalah; "Apa yang Anda ragukan dari dan terhadap seorang Maria, yang adalah Bunda Sang Penyelamat itu sendiri?" Maria tidak banyak berbicara dengan kata-kata indah yang berapi-api seperti kebanyakan orang, tapi kuyakinkan engkau bahwa sesaat ketika engkau dan aku mampu hidup seperti Maria dalam imannya ketika mengikuti dan menemani Yesus, Putranya, maka keselamatan akan menjadi milikmu. Ya, jika engkau ingin seperti Yesus, jadilah seperti Maria.


Selamat memasuki bulan Rosario...biarlah jiwamu selalu menyanyikan lagu indah ini:

"Rosario yang kukasih sejak masa muda
takan kulupakan engkau dalam suka duka..."


Salam dan doa dari seorang sahabat untuk para sahabatnya,

***Rinnong***

Source : FB Rm Inno Ngutra
Inno Ngutra

Pope Francis’ “Mere Christianity”


Pope Francis’ “Mere Christianity”


In The Screwtape Letters, Uncle Screwtape advises his tempter-demon nephew Wormwood that,
The real trouble about the set your patient is living in is that it is merely Christian.  They all have individual interests, of course, but the bond remains mere Christianity.  What we want, if men become Christians at all, is to keep them in the state of mind I call “Christianity And.” . . . . If they must be Christian, let them at least be Christians with a difference.  Substitute for the faith itself some fashion with a Christian coloring.  (Letter 25)
Screwtape wants people to turn their faith into something divisive, something that sets them and their beliefs off from others. The fallout from Pope’s Francis recent interview makes it seem that Pope Francis is doing just this. Slate magazine, for example, claimed he was “a flaming liberal”.  I agree with so many others who insist that this is not what Francis is doing (a point effectively made by Charlie Camosy, Mark Shea, and many others.)
What is the Pope doing?  Francis seems to be addressing not a left-right problem but an inside-outside one. Our church is afflicted by groups—and they can be from the right, middle, or left—that use one aspect of the gospel as a shibboleth to distinguish the inner circle from the outer, the righteous from sinners, and the justified from the damned.  Pope Francis seems concerned with bridging these divisions (the pope is supposed to be the pontifex maximus, the ultimate bridge-builder, after all) by focusing on the faith behind all of them.
But the proclamation of the saving love of God comes before moral and religious imperatives. Today sometimes it seems that the opposite order is prevailing. . . . The message of the Gospel, therefore, is not to be reduced to some aspects that, although relevant, on their own do not show the heart of the message of Jesus Christ.
And again . . .
This is pure Gospel. God is greater than sin. The structural and organizational reforms are secondary—that is, they come afterward. The first reform must be the attitude. The ministers of the Gospel must be people who can warm the hearts of the people, who walk through the dark night with them, who know how to dialogue and to descend themselves into their people’s night, into the darkness, but without getting lost.
For Francis, this “saving love of God” and “pure Gospel” is what binds us all in communion with one another and together with God.
Belonging to a people has a strong theological value. In the history of salvation, God has saved a people. There is no full identity without belonging to a people. No one is saved alone, as an isolated individual, but God attracts us looking at the complex web of relationships that take place in the human community. God enters into this dynamic, this participation in the web of human relationships.
This is Pope Francis’ mere Christianity:  it is a focus on God’s love and the way this love unites us with each other.   It runs through his interview but also through his first encyclical.  In Lumen Fidei, he writes that “Christian faith is thus faith in a perfect love, in its decisive power, in its ability to transform the world and to unfold its history” (§ 15), and it is this “perfect love” that binds us together.
The transmission of the faith not only brings light to men and women in every place; it travels through time, passing from one generation to another. Because faith is born of an encounter which takes place in history and lights up our journey through time, it must be passed on in every age. It is through an unbroken chain of witnesses that we come to see the face of Jesus. (§ 38)
I am not claiming that this situation is something new nor that Pope Francis is doing something unique.  He seems to be addressing a problem the Church has faced from its beginning and is responding in a way that the Church has frequently responded.  Jesus told his disciples the parable of the tax-collector and Pharisee (Luke 18:9-14) to warn them about using religion to justify one’s self.  To the church at Corinth that was mired in divisions based on status, wealth, and spiritual gifts, St. Paul reminded them that they are all parts of one body that should be united by love (1 Corinthians 12:12-13). St. Irenaeus responded to the Gnostics, who insisted that only they were saved because only they had the special knowledge, by insisting on the catholicity of salvation.
Pope Francis’ “mere” Christianity should challenge us. We should neither cheer nor bemoan the perception that one side is favored over another (as Rebecca Sharbaugh indicated in her reflection on the pope’s interview).  We should hear the “pure gospel” about the “perfect love” and “saving love” of God as a demand placed upon our labors.  We should see other people and their work just as we see our work and ourselves:  as genuine attempts to do God’s will. Let us hope we can become a little like the set Wormwood warned against: “have individual interests, of course, but the bond remains mere Christianity.”
This post is the second in a series of posts reflecting on the interview “A Big Heart Open to God” with Pope Francis published in America Magazine and simultaneously in 15 other Jesuit Magazines around the world.

Source : catholicmoraltheology.com

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India